Pesta Pembaptisan Tuhan
Bacaan I: Yesaya 40:1-5.9-11; Bacaan II: Titus 2:11-14;3:4-7; Bac. Injil: Lukas 3:15-16.21-22
Pesta Pembaptisan Tuhan
Bangsa Israel telah meninggalkan ALlah dan kebenaran-Nya sehingga hidupnya sengsara, kini diundang Allah untuk menikmati keselamatan dan hidup dalam berkat-Nya. Syaratnya adalah orang harus bertobat dari dosa-dosa dan mengandalkan Allah dalam iman. Orang selalu mencari kebenaran-Nya dan melaksanakannya dalam perjuangan hidup sehari-hari.
Pesta Pembaptisan Tuhan menutup masa Natal dan sekaligus membuka babak baru dalam sejarah keselamatan. Jika pada Natal Allah datang secara tersembunyi dalam rupa seorang bayi, maka dalam pembaptisan di Sungai Yordan, Allah mulai menyatakan siapa Yesus sebenarnya. Inilah momen peralihan dari kehidupan tersembunyi menuju perutusan publik.
Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Ini mengejutkan, bahkan mengganggu logika kita. Yohanes membaptis orang-orang berdosa yang mengakui pertobatan. Mengapa Yesus, yang tidak berdosa, masuk ke dalam antrean yang sama?
Jawaban Yesus sederhana namun sangat dalam: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Secara teologis, pembaptisan Yesus adalah tindakan solidaritas radikal. Ia tidak berdiri di atas manusia, tetapi berdiri di tengah mereka. Ia tidak menyelamatkan dari kejauhan, tetapi dari dalam.
Yesus masuk ke air bukan untuk membersihkan diri, melainkan untuk menguduskan air itu sendiri, menjadikannya sarana keselamatan. Ia mengambil seluruh kondisi manusia; dosa, luka, kerapuhan, bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menebusnya. Di sini kita melihat wajah Allah yang sejati: Allah yang merendahkan diri, bukan Allah yang menjaga jarak.
Setelah Yesus dibaptis, Injil berkata: “Terbukalah langit.” Ini adalah simbol teologis yang sangat kuat. Langit yang terbuka menandakan bahwa jarak antara Allah dan manusia telah dirobohkan. Inisiatif ini bukan datang dari manusia yang naik ke Allah, tetapi dari Allah yang membuka diri kepada manusia. Dalam seluruh Kitab Suci, keselamatan selalu dimulai dari Allah. Pembaptisan Yesus menegaskan bahwa keselamatan bukan hasil kesalehan manusia, melainkan rahmat yang diberikan lebih dahulu.
Roh Kudus turun seperti burung merpati. Gambaran ini mengingatkan kita pada Roh Allah yang melayang-layang di atas air pada saat penciptaan (Kej 1:2). Artinya, pembaptisan Yesus adalah awal penciptaan baru. Yesus diurapi oleh Roh bukan untuk kepentingan diri-Nya, tetapi untuk perutusan. Dari titik ini, Ia akan: mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan yang sakit, mengampuni yang berdosa, dan akhirnya menyerahkan diri di salib. Roh Kudus selalu terkait dengan misi. Identitas dan perutusan tidak pernah terpisah.
Suara dari surga berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Secara teologis, ini sangat penting: Bapa menyatakan kasih-Nya sebelum Yesus melakukan satu pun mukjizat. Yesus disebut Anak bukan karena karya-Nya, tetapi karena relasi-Nya dengan Bapa. Ini membongkar logika dunia yang sering menilai manusia berdasarkan prestasi. Dalam iman Kristen, identitas selalu mendahului tindakan. Kita tidak dicintai karena kita baik; kita berbuat baik karena kita dicintai.
Pembaptisan Yesus menerangi makna pembaptisan kita sendiri. Dalam pembaptisan: kita dimasukkan ke dalam relasi Tritunggal, kita diangkat menjadi anak-anak Allah, kita menerima Roh Kudus, dan kita diutus untuk hidup sebagai saksi. Namun pembaptisan bukan sekadar peristiwa masa lalu. Ia adalah identitas yang harus dihidupi. Menjadi anak Allah berarti berani hidup seperti Kristus: rendah hati, solider, taat pada kehendak Bapa, dan setia dalam kasih.
Pembaptisan Yesus bukan akhir, tetapi awal. Dari Sungai Yordan, jalan-Nya mengarah ke Golgota. Ini mengingatkan kita bahwa rahmat pembaptisan selalu mengandung salib. Menjadi anak Allah bukan berarti hidup bebas masalah, tetapi hidup dalam kesetiaan. Namun justru di situlah pengharapan kita: Allah yang menyebut Yesus sebagai Anak terkasih di Yordan adalah Allah yang juga setia sampai kebangkitan.
Pesta Pembaptisan Tuhan mengajak kita kembali ke akar iman kita. Kita diingatkan bahwa Allah dekat, solider, dan setia. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengingat pembaptisan kita, tetapi untuk menghidupinya setiap hari. Semoga kita berani hidup sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, bukan dengan kesombongan, tetapi dengan kerendahan hati dan kesetiaan. Dan semoga suara Bapa itu terus bergema dalam hati kita:“Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.”
Kadek, SX