HARI MINGGU BIASA XI
Bacaan I: Keluaran 19::2-6a; Mazmur: 100:2.3.5; Bacaan II: Roma 5:6-11; Bacaan Injil: Matius 9:36-10:8
HARI MINGGU BIASA XI
Panggilan Para Rasul adalah Panggilan Kita Semua
Bacaan I: Keluaran 19::2-6a; Mazmur: 100:2.3.5; Bacaan II: Roma 5:6-11; Bacaan Injil: Matius 9:36-10:8
HARI MINGGU BIASA XI
Panggilan Para Rasul adalah Panggilan Kita Semua
Bacaan I: Ulangan 8:2-3.14b-16a; Mazmur: 147:12-13.14-15.19-20;R:12a; Bacaan II: 1 Kor 10:16-17; Bacaan Injil: Yoh 6:51-58
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman
Bacaan I: Keluaran 34:4b-6,8-9; Mazmur: Daniel 3:52, 53, 54, 55, 56; Bacaan II: 2 Korintus 13:11-13; Bacaan Injil: Yoh 3:16-18
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHA KUDUS
Relasi Keselamatan Iman Kristiani
Hari Tri Tunggal Maha Kudus
Minggu ini kita merayakan hari raya Tri Tunggal Mahakudus, melalui pesta ini kita diundang untuk percaya bahwa Allah adalah satu tetapi tiga kepribadian. Walaupun kita tidak bisa paham misteri Tri Tunggal Mahakudus tetapi tetap percaya bahwa Allah adalah Bapa yang Mahabaik, melalui pesta ini kita harus memperbahaui gambaran yang benar tentang Allah.
Dalam hal ini bacaan pertama dari kitab keluaran bisa membantu kita karena Allah memperkenalkan diri kepada musa ”Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya”. Dalam injil Yesus juga mewartakan bahwa Allah adalah Bapa yang maha baik, yang selalu mau mendengarkan doa kita, mau mengampuni kita, mau peluk kita dan bahagia kalau kita kembali kepada-Nya. Gambaran yang benar tentang Allah yang telah kita terima dari sabda Allah, harus mendorong kita untuk lebih dekat dengan Allah, lebih peduli dengan doa kita, lebih memperhatikan hidup rohani kita dan juga lebih memperhatikan sesama kita.
Sering kali umat malas ke gereja, malas berdoa, tidak peduli dengan kegiatan gereja dan kurang perhatian kepada sesama, menurut saya semua itu bisa terjadi karena mereka tidak mempunyai gambaran yang benar tentang Allah. Karena kalau kita benar-benar percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahabaik dan Penyayang pasti kita mau berjumpa dengan Dia karena kita akan diberkati, dikuatkan, diampuni dan diberikan semua berkat yang baik untuk kita.
Oleh karena itu kita harus memeriksa dan bertanya kepada diri sendiri, bagaimana hubungan saya dengan Allah .
Apakah saya ada waktu setiap hari untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas berkat-Nya yang telah Ia berikan?
Apakah saya ada waktu untuk hening dan menikmati cinta dan pelukan dari Dia yang megasihi saya?
Apakah saya menyediakan waktu untuk merenungkan sabdaNya yang akan menguatkan iman saya dalam kehidupan sehari-hari?
Pesta Tri Tunggal Mahakudus menjadi inspirasai juga untuk setiap keluarga dan komunitas religius, kalau hidup bersama berarti harus hidup dalam kasih, dalam damai seperti Allah kita, dengan kata lain menikmati hidup bersama yang kita jalankan setiap hari.
Seperti kata St. Agustinus “jika ada melihat kasih, anda melihat Tri Tunggal.” Keluarga kita dan komunitas kita harus mencerminkan Tri Tunggal Mahakudus.
Apakah hidup dalam keluarga anda menjadi tempat yang membahagiakan anda dan menguatkan anda dalam situasi apapun yang anda hadapi?
Apakah keluarga anda menjadi tempat dimana anda merasa dicintai, diterima, dipercaya dan juga dimana anda dapat mencintai , menerima dan percaya kepada yang lain?
Apakah komunitas anda menjadi tempat dimana anda merasa bahagia, dicintai, diterima dan dipercaya dan tempat dimana anda belajar untuk mencintai, melayani dan mengampuni?
Dalam bacaan Injil, Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan manusia dan berikan hidup yang kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Itu berarti bahwa Ia sangat peduli dengan keselamatan kita. Apakah saya juga peduli dengan keselamatan saya dan keselamatan orang lain?
Inisiatif dari Allah harus menggembirakan hidup kita, karena kalau Ia peduli dengan keselamatan kita, kenapa kita tidak menghargai dan mempergunakan bantuanNya untuk diselamatkan. Karena kita mau bahagia bersama Dia di dunia ini dan harapan kita adalah memperoleh hidup yang kekal yang dijanjikan kepada semua orang yang percaya kepadaNya dan bersama semua orang Kudus menikmati kemuliaanNya di surga untuk selama-lamanya.
P. Manuel, SX
Bacaan I: Kis 1:12-14; Mazmur: 27:1.4.7-8a; Bacaan II: 1 Petrus 4:13-16; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a
HARI RAYA PENTAKOSTA
Roh Kudus Mendampingi Kita untuk Berkarya
Hari Raya Pentakosta
Kisah Para Rasul 2:1–11 | 1 Korintus 12:3b–7.12–13 | Yohanes 20:19–23
Pentakosta sering disebut sebagai hari lahirnya Gereja. Tetapi kalau kita masuk lebih dalam ke dalam bacaan-bacaan hari ini, kita akan menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar “awal”. Pentakosta adalah perubahan besar: dari takut menjadi berani, dari tertutup menjadi terbuka, dari tercerai-berai menjadi satu.
1. Dari pintu tertutup menjadi hati yang terbuka
Dalam Injil, para murid berkumpul dengan pintu terkunci. Mereka takut; takut ditangkap, takut ditolak, takut masa depan mereka hancur. Dan di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.” Yesus datang justru saat mereka masih takut. Lalu Ia melakukan sesuatu yang sangat berarti: Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Ini bukan sekadar simbol melainkan penciptaan baru. Seperti Allah menghembuskan napas kehidupan pada manusia di awal, sekarang Yesus menghembuskan hidup baru bagi Gereja. Artinya: iman kita tidak dibangun di atas keberanian kita, tetapi di atas Roh Kudus yang bekerja dalam kita.
2. Roh Kudus mengubah ketakutan menjadi keberanian
Dalam Kisah Para Rasul, perubahan itu langsung terlihat. Para murid yang tadinya bersembunyi, sekarang berdiri dan berbicara di depan umum. Yang tadinya takut, sekarang berani bersaksi. Apa yang berubah? Bukan situasi mereka, dunia tetap sama. Tetapi hati mereka diubah oleh Roh Kudus.
Roh Kudus tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi Ia memberi kita kekuatan untuk menghadapinya. Itulah sebabnya orang banyak heran: mereka mendengar para rasul berbicara dalam berbagai bahasa. Ini bukan hanya soal mukjizat bahasa. Ini tanda bahwa Roh Kudus membuat Injil dapat dimengerti oleh semua orang. Cinta Tuhan tidak eksklusif. Ia menembus batas bahasa, budaya, dan perbedaan.
3. Banyak karunia, satu Roh
Dalam surat kepada jemaat Korintus, Santo Paulus mengingatkan: ada banyak karunia, tetapi satu Roh. Ada banyak anggota, tetapi satu tubuh. Ini sangat relevan bagi kita. Sering kali kita merasa: “Saya tidak bisa apa-apa” “Saya tidak sepenting yang lain” atau sebaliknya: merasa diri paling benar. Tetapi Roh Kudus bekerja justru dalam keberagaman itu. Tidak semua orang harus menjadi sama. tetapi semua dipanggil untuk berkontribusi. Gereja bukan kumpulan orang hebat, tetapi tubuh di mana setiap bagian punya peran. Dan yang menyatukan bukan kesamaan, tetapi Roh Kudus itu sendiri.
4. Roh Kudus memberi misi: mengampuni dan mengutus
Dalam Injil, setelah memberi Roh Kudus, Yesus langsung memberi tugas: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Artinya, Roh Kudus tidak diberikan untuk disimpan, tetapi untuk dihidupi dan dibagikan. Dan tugas pertama yang disebut adalah: mengampuni. Ini menarik, bukan mukjizat besar, bukan hal spektakuler, tetapi pengampunan. Karena di situlah dunia paling membutuhkan Roh Kudus. Mengampuni itu sulit. Tetapi justru di situlah Roh Kudus bekerja paling nyata.
Pentakosta bukan hanya peristiwa yang terjadi 2000 tahun lalu. Pentakosta adalah undangan untuk kita hari ini. Saat kita takut, Roh Kudus memberi keberanian. Saat kita tertutup, Roh Kudus membuka hati. Saat kita berbeda, Roh Kudus mempersatukan. Saat kita lemah Roh Kudus menguatkan.
Selamat Hari Raya Pentakosta!
Bacaan I: Kis 1:12-14; Mazmur: 27:1.4.7-8a; Bacaan II: 1 Petrus 4:13-16; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a
MINGGU PASKAH VII
Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60
Menjaga Suara dan Wajah Manusia
Saudara-saudari terkasih,
Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia. Sejak dahulu, hal ini sudah dipahami dengan baik. Orang Yunani kuno, misalnya, mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon yang berarti “wajah”, yaitu sesuatu yang hadir di hadapan orang lain dan memungkinkan terjadinya hubungan. Dalam bahasa Latin, kata persona (dari per-sonare) juga mengandung makna suara, bukan sembarang suara, melainkan suara khas milik seseorang.
Wajah dan suara memiliki nilai yang suci. Keduanya adalah anugerah dari Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, serta memanggil manusia untuk hidup melalui Sabda-Nya. Sabda ini pertama-tama disampaikan melalui suara para nabi, lalu menjadi manusia dalam diri Yesus pada waktu yang telah ditentukan. Sabda Allah—cara Allah menyatakan diri-Nya—dapat kita dengar dan lihat secara nyata (lih. 1Yoh 1:1–3), karena Ia hadir dalam suara dan wajah Yesus, Putra Allah.
Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki manusia sebagai lawan bicara-Nya. Seperti dikatakan Santo Gregorius dari Nisa,[1] Allah meninggalkan pantulan kasih-Nya pada wajah manusia agar manusia dapat hidup sepenuhnya sebagai manusia melalui kasih. Karena itu, menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dan tidak dapat dihapus. Manusia bukanlah makhluk yang hanya terdiri dari algoritma biokimia yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap orang memiliki panggilan hidup yang unik dan tidak dapat digantikan, yang tumbuh dalam kehidupan dan terwujud dalam komunikasi dengan sesama.
Jika wajah dan suara manusia tidak dijaga, teknologi digital dapat mengubah secara mendasar pilar-pilar penting peradaban manusia yang sering kita anggap biasa saja. Dengan meniru suara dan wajah manusia, juga meniru kebijaksanaan, pengetahuan, kesadaran, tanggung jawab, empati, dan persahabatan, sistem yang disebut kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu cara kita menerima informasi, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam komunikasi manusia, yaitu hubungan antarpribadi.
Karena itu, tantangan utama yang kita hadapi bukanlah sekadar masalah teknologi, melainkan masalah tentang manusia itu sendiri. Menjaga wajah dan suara berarti menjaga martabat dan jati diri kita. Menerima peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan, dan kebijaksanaan tidak berarti mengabaikan kelemahan, ketidakjelasan, dan risiko yang menyertainya.
Jangan Berhenti Berpikir Sendiri
Sudah lama ada banyak bukti bahwa algoritma media sosial—yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna demi keuntungan platform—lebih mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sementara justru menghambat ungkapan manusia yang membutuhkan waktu, seperti usaha untuk memahami dan merenung. Dengan mengurung kelompok-kelompok orang dalam “gelembung” persetujuan instan dan kemarahan yang mudah, algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat.
Situasi ini diperparah oleh sikap mempercayai kecerdasan buatan secara naif dan tanpa sikap kritis, seolah-olah ia adalah “teman” yang mahatahu, penyedia semua informasi, penyimpan seluruh ingatan, dan “peramal” segala nasihat. Semua ini berisiko semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir secara analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara struktur bahasa dan arti yang sesungguhnya.
Walaupun kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi, menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi kita.
Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin mengambil alih produksi teks, musik, dan video. Akibatnya, sebagian besar industri kreatif manusia berisiko dibongkar dan digantikan dengan label “Powered by AI”, yang mengubah manusia menjadi konsumen pasif dari gagasan yang tidak sungguh dipikirkan, dari produk anonim tanpa pencipta, tanpa kasih. Sementara itu, karya-karya besar dari kejeniusaan manusia dalam musik, seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan pelatihan bagi mesin.
Namun, persoalan utama bukanlah apa yang dapat atau akan dapat dilakukan oleh mesin, melainkan apa yang dapat dan akan dapat kita lakukan sebagai manusia—bertumbuh dalam kemanusiaan dan pengetahuan—dengan menggunakan secara bijaksana alat-alat yang sangat kuat ini. Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk mengambil buah pengetahuan tanpa usaha keterlibatan, pencarian, dan tanggung jawab pribadi. Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.
Menjadi atau Berpura-pura: Simulasi Relasi dan Realitas
Saat kita terus menggulir arus informasi (feed), semakin sulit untuk mengetahui apakah kita sedang berinteraksi dengan manusia lain atau dengan “bot” dan “influencer virtual”. Campur tangan agen otomatis ini, yang sering kali tidak transparan, mempengaruhi perdebatan publik dan pilihan-pilihan pribadi. Terutama chatbot berbasis model bahasa besar (LLM) terbukti sangat efektif dalam persuasi tersembunyi melalui interaksi yang terus dioptimalkan secara personal.
Struktur dialog yang adaptif dan meniru manusia dari model bahasa ini mampu menirukan perasaan manusia dan dengan demikian mensimulasikan suatu relasi. Antropomorfisasi ini—yang kadang tampak menghibur—sebenarnya menyesatkan, terutama bagi orang-orang yang rentan. Chatbot yang dibuat terlalu “penuh perhatian”, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi.
Teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan manusia akan relasi tidak hanya dapat membawa dampak menyakitkan bagi individu, tetapi juga merusak jalinan sosial, budaya, dan politik masyarakat. Hal ini terjadi ketika relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan yang dilatih untuk mengklasifikasikan pikiran kita dan membangun di sekitar kita dunia cermin, di mana segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita sendiri”. Dengan cara ini, kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan sesama yang berbeda dari kita—padahal justru melalui perjumpaan dan perbedaan itulah kita belajar berdialog. Tanpa penerimaan terhadap perbedaan, tidak mungkin ada relasi sejati maupun persahabatan.
Tantangan besar lainnya adalah masalah distorsi atau bias, yang menyebabkan terbentuk dan tersebarnya pemahaman realitas yang keliru. Model kecerdasan buatan dibentuk oleh pandangan dunia para pembuatnya dan dapat memaksakan cara berpikir tertentu dengan meniru stereotip dan prasangka yang ada dalam data pelatihannya. Kurangnya transparansi dalam perancangan algoritma, ditambah dengan representasi sosial data yang tidak memadai, berisiko menjebak kita dalam jaringan yang memanipulasi pikiran serta melanggengkan dan memperdalam ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang sudah ada.
Risikonya sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan mengambil alih wajah dan suara kita. Kita hidup dalam dunia yang semakin berlapis, di mana membedakan antara kenyataan dan rekayasa menjadi makin sulit.
Masalah lain yang menyertai adalah kurangnya ketepatan. Sistem yang menyajikan probabilitas statistik seolah-olah itu pengetahuan sejati sebenarnya hanya memberikan perkiraan kebenaran, yang kadang berubah menjadi “halusinasi”. Ketika verifikasi sumber diabaikan—ditambah krisis jurnalisme lapangan yang menuntut kerja langsung untuk mengumpulkan dan memeriksa fakta di tempat kejadian—maka ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat.
Sebuah Kemitraan yang Memungkinkan
Di balik kekuatan besar yang tak terlihat ini—yang memengaruhi kita semua—sebenarnya hanya ada segelintir perusahaan. Para pendirinya baru-baru ini bahkan dipuji sebagai pencipta “tokoh tahun 2025”, yaitu para perancang kecerdasan buatan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang penguasaan segelintir pihak (oligopoli) atas sistem algoritma dan kecerdasan buatan, yang mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang sejarah umat manusia—termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.
Tantangan kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dengan bijaksana dan menyadari bahwa teknologi ini memiliki sisi ganda. Setiap orang dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman.
Kemitraan ini mungkin terwujud, tetapi harus dibangun di atas tiga pilar utama: tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.
Yang pertama adalah tanggung jawab. Bentuknya dapat berbeda-beda sesuai peran masing-masing: kejujuran, transparansi, keberanian, visi ke depan, kewajiban berbagi pengetahuan, serta hak untuk mendapatkan informasi. Namun pada akhirnya, tidak seorang pun dapat menghindar dari tanggung jawab terhadap masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Bagi para pemimpin platform digital, tanggung jawab ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka tidak hanya didorong oleh keuntungan semata, tetapi juga oleh kepedulian terhadap kesejahteraan bersama—sebagaimana mereka peduli pada masa depan anak-anak mereka sendiri.
Para perancang dan pengembang model kecerdasan buatan dituntut untuk bersikap transparan dan bertanggung jawab secara sosial, terutama terkait prinsip perancangan dan sistem pengawasan algoritma yang mereka buat. Hal ini penting agar para pengguna dapat mengambil keputusan dengan pemahaman yang cukup.
Tanggung jawab yang sama juga ada pada para pembuat undang-undang dan regulator, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang bertugas menjaga martabat manusia. Regulasi yang tepat dapat melindungi orang dari keterikatan emosional yang berlebihan dengan chatbot, serta membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, sehingga integritas informasi tetap terjaga.
Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang hanya mengejar perhatian sesaat mengalahkan nilai-nilai profesional mereka dalam mencari kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketepatan dan transparansi, bukan sekadar dengan meningkatkan keterlibatan apa pun caranya. Konten yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi tanda yang jelas dan dibedakan dari konten buatan manusia. Hak cipta dan kedaulatan karya para jurnalis serta kreator konten harus dilindungi. Informasi adalah milik publik. Pelayanan publik yang bermakna dan membangun harus berlandaskan keterbukaan sumber, pelibatan pihak terkait, dan standar kualitas yang tinggi.
Kita semua juga dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan buatan. Karena itu, perlu dibangun mekanisme perlindungan bersama. Semua pihak—mulai dari industri teknologi, pembuat kebijakan, pelaku industri kreatif, dunia akademik, seniman, jurnalis, hingga para pendidik—harus terlibat dalam membangun kewargaan digital yang sadar dan bertanggung jawab.
Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting: meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menilai keandalan sumber informasi, memahami kepentingan di balik pemilihan informasi, serta mengenali mekanisme psikologis yang digunakan. Pendidikan juga membantu keluarga, komunitas, dan organisasi menyusun pedoman praktis demi budaya komunikasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang—sebuah langkah yang sudah mulai diupayakan oleh beberapa lembaga sipil. Sebagai umat Katolik, kita dapat dan harus berkontribusi agar terutama kaum muda bertumbuh dalam kemampuan berpikir kritis dan kebebasan batin. Literasi ini juga perlu menjadi bagian dari pendidikan sepanjang hayat, menjangkau para lansia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, yang sering merasa tertinggal dan tak berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.
Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan menolong semua orang untuk tidak memperlakukan sistem ini seolah-olah manusia, melainkan sebagai alat. Literasi ini juga mendorong kebiasaan memeriksa kembali sumber informasi dari kecerdasan buatan—yang bisa saja keliru—melindungi privasi dan data pribadi, serta memahami pengaturan keamanan dan mekanisme pengaduan. Penting untuk belajar menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus melindungi citra diri, wajah, dan suara agar tidak disalahgunakan untuk penipuan digital, perundungan siber, atau deepfake yang melanggar privasi dan martabat manusia.
Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut kemampuan baca-tulis dasar agar manusia mampu beradaptasi, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital—bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas, bagaimana bias dalam kecerdasan buatan bekerja, bagaimana konten tertentu muncul dalam arus informasi kita, serta bagaimana model ekonomi kecerdasan buatan berkembang dan berubah.
Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.
Dengan menyampaikan refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut, dan dengan tulus memberkati mereka yang mengabdikan diri bagi kesejahteraan bersama melalui media komunikasi.
Vatikan, 24 Januari 2026
Peringatan Santo Fransiskus de Sales
PAUS LEO XIV
[1] “Diciptakan menurut gambar Allah berarti bahwa sejak saat penciptaannya, manusia telah diberi martabat yang bersifat mulia dan luhur. Allah adalah kasih dan sumber kasih; Sang Pencipta ilahi juga menanamkan ciri ini pada wajah manusia, supaya melalui kasih—yang merupakan pantulan kasih ilahi—manusia dapat mengenali dan menampakkan martabat kodratnya serta keserupaannya dengan Sang Pencipta.” (bdk. Santo Gregorius dari Nisa, Penciptaan Manusia: PG 44, 137)
Bacaan I: Kis 8:5-8.14-17; Mazmur: 66:1-3a.4-5.6-7a.16.20; Bacaan II: 1 Petrus 3:15-18; Bacaan Injil: Yoh 14:15-21
MINGGU PASKAH VI
Anugerah Tuhan dalam Sakramen Inisiasi
Sakramen Inisiasi.
Bacaan I: Kis 2:14a.36-41; Mazmur: 23:1-3a.3b.4.5.6; Bacaan II: 1 Petrus 2:20b-25; Bacaan Injil: Yoh 10:1-10
MINGGU PASKAH IV
Penemuan Batiniah Akan Anugerah Tuhan
Bapak-ibu serta saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus, selamat pagi. Pada hari ini kita sudah memasuki hari minggu paskah keempat dan juga kita rayakan sebagai hari minggu panggilan sedunia yang ke 63 dan tema tahun ini adalah “Penemuan Batiniah akan Anugerah Allah”. Dalam Injil hari ini kita mendengar pengajaran Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang gembala.
Melalui perumpamaan tentang gembala, Tuhan Yesus mau memperlawankan/mempertentangkan antara seorang gembala dan seorang pencuri/perampok. Pada zaman dahulu termasuk pada zaman Yesus, orang biasanya menggembalakan ternaknya dalam jumlah yang banyak dan biasanya berpindah-pindah untuk mencari tempat yang banyak rumputnya. Ketika para gembala ini jauh dari kampung, tidak lagi tersedia kandang yang punya atap, maka beberapa gembala secara bersama-sama akan membuat pagar sekeliling dengan satu pintu utama dan menempatkan ternak mereka di dalamnya. Mereka akan berjaga secara bergiliran. Penjaga kandang akan mempersilahkan seorang gembala masuk untuk mengambil ternak gembalaannya.
Sebaliknya yang bukan gembala atau pencuri pasti tidak akan diizinkan masuk. Maka untuk bisa masuk ke dalam kandang, orang itu harus memanjat pagar atau tembok. Seorang pencuri pasti akan membuat kawanan ternak panik dan lari ketakutan karena mereka tidak mengenalnya. Selain itu tujuan kedatangannya bukan untuk maksud yang baik tetapi dengan maksud jahat; mencuri ternak.
Karena gembala dan ternaknya itu sudah bersama-sama selama beberapa waktu maka sudah terjalin ikatan dan kedekatan di antara mereka. Baik gembala maupuan ternaknya (domba-dombanya) sudah saling mengenal satu sama lain. Meskipun dalam kandang itu banyak ternak lain, seorang gembala tidak mempunyai kesulitan untuk membawa ternaknya (domba-dombanya) keluar karena mereka mengenal suara gembalanya dan gembala pun dapat memanggil ternaknya (domba-dombanya) dengan namanya masing-masing. Hubungan kedekatan dan saling percaya timbal balik inilah yang mau digambarkan Yesus dengan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Seorang gembala akan berjalan di depan untuk menuntun ternaknya dan ternaknya mengikuti suaranya. Selain bertugas menjaga kawanan ternaknya, salah satu tugas utama seorang gembala adalah mencarikan makanan dan minuman untuk ternaknya. Kawanan ternak (domba-domba) hanya bisa menemukan padang rumput dan air kalau mereka setia mengikuti gembala tanpa dibelokkan oleh suara orang yang tak dikenal.
Setelah berbicara tentang gembala, tiba-tiba Yesus menyebut diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba. Keterangan Yesus ini tentu saja membingungkan karena terjadi peralihan yang tiba-tiba. Ketika mengatakan diri-Nya adalah pintu masuk ke kandang domba, Yesus mau menunjukkan bahwa Ia adalah jalan yang sah/benar kepada kawanan domba, dan hanya melalui Dia. Semua orang yang menyusup masuk, tanpa melalui Dia, adalah pencuri dan perampok yang akan membaga kerugian bagi kawanan ternak (domba-domba).
Yesus juga menambahkan bahwa hanya melalui Dia orang dapat keluar-masuk dan akan memperoleh keselamatan. Pintu itu selain berfungsi untuk melindungi kawanan ternak supaya orang jangan bebas keluar masuk begitu saja, pintu itu juga berfungsi untuk membuka jalan menuju keselamatan (padang rumput).
Dalam Injil hari ini, melalui perumpamaan tentang gembala dan pintu, Tuhan Yesus mau menunjukkan kepada kita bahwa Dia adalah gembala yang baik, yang mempunyai tugas untuk menjaga dan menuntun kita kawanan ternaknya (dombanya) sampai kepada padang rumput dan sumber air, yang tidak lain adalah keselamatan. Kita diajak untuk percaya kepada-Nya dan mengikuti suara-Nya. Kenapa? Sebab senantiasa ada resiko bahwa kita bisa disesatkan oleh suara-suara yang lain. Suara ini bisa membuat kita terpisah dari kawanan dan juga membawa bahaya bagi kita. Hanya dengan setia mengikuti Sang Gembala sejati ini, kita akan dibawa kepada jalan yang benar dan sampai kepada keselamatan abadi. Amin.
P. Yonas, SX
Bacaan I: Kis 2:14.22-33; Mazmur: 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Bacaan II: 1 Petrus 1:17-21; Bacaan Injil: Lukas 24:13-35
MINGGU PASKAH III
MATAKU TERTUJU KEPADA TUHAN
JANGAN SEGER
Minggu yang lalu saya berkunjung ke tempat kakak saya. Di tempat kakak saya ini, saya dimasakkan ‘Jangan Seger’. ‘Jangan Seger’ adalah istilah dalam bahasa Jawa. Jangan berarti Sayur dan Seger berarti Segar. Sayur ini merupakan sayur sederhana hanya berbagai macam sayuran (Kacang panjang, Bayam, Wortel, Kol dll) yang direbus di air yang bening. Maka istilah lain dari ‘Jangan Seger’ adalah Sayur Bening.
Saya tidak ingin menulis soal sayur ini sebenarnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika saya makan dengan sayur ini, saya ingat ibu saya. Kakak saya mampu memasak sayur ini sedemikian rupa sampai menyerupai yang dibuat oleh ibu saya dulu. Melalui sayur ini, melalui kecapan rasa ini seolah membuka pintu memori dengan ibu saya yang telah tiada.
Saya mengingat pengalaman ini ketika membaca, merenungkan dan memeditasikan bacaan-bacaan Minggu Paskah III ini.
Betapa tidak, ditengah keterpecahan hidup dan di tengah ketidakbersamaan….ketika makan bersama, memecahkan roti… pintu itu terbuka, memori tentang Sang Guru muncul, kebersamaan dengan Sang Guru yang ‘hilang’ dialami. Hidup yang terpecah-pecah, kalah, bingung, putus asa, lunglai, seolah-olah berjalan ke kematian berubah drastis. Yang hilang datang, yang padam menyala, bahkan berkobar.
Ekaristi adalah Paskah kita. Sebelum masuk gereja mungkin hidup kita terpecah-pecah, merasa berjalan sendiri, merasa kalah, banyak hutang, bingung, lunglai tanpa harapan seperti dua murid Emmaus. Dalam Ekaristi Yesus memecah roti. Pintu terbuka. Memori hidup muncul. Dia yang mencintai kita ada dengan kita. Seolah keterpecahan, kesendirian, kelunglaian kita terserap dalam memori salibNya dan dibaharui dalam kebangkitanNya.
Bumi kita ini mungkin seperti murid Emmaus. Sejarah Bumi mungkin seolah berjalan ke arah Barat arah kematian. Sampah menumpuk, hutan dibabat habis, bumi dilukai dan sakit. Bumi berjalan sendiri. Bumi dimusuhi oleh manusia. Dengan dijadikannya tahun 2026 sebagai Tahun St. Fransiskus Assisi, semoga menjadi saat pemecahan roti, titik pembaharuan. Pintu kesadaran baru terbuka. Harmoni manusia dan alam terjadi. Seperti St. Fransiskus Assisi, semoga manusia mampu memandang alam sebagai saudara.
Tahun ini kita merayakan 75 tahun kehadiran Xaverian di Indonesia. Semoga perayaan ini menjadi perayaan pemecahan roti, perayaan yang membuka pintu memori sejarah bersama sebagai Xaverian, perayaan yang membawa semangat baru.
Puluhan misionaris hidupnya telah diambil dari Tanah airnya. Diberkati sebagai imam dan bruder Misionaris Xaverian. Dipecah-pecah dan diutus di tempat misi yang sulit mulai dari Simatalu dan Simalegi di Mentawai, Katedral, Pasar Usang, Batusangkar di Sumbar, terus di Palas dan Pulau Rupat di Riau.
Doa saya, semoga para pembaca renungan ini mengalami titik pemecahan roti dalam hidup saudari dan saudara, rekan muda dan adik-adik sekalian.
Amin.
Rm. Petrus, SX
Bacaan I: Kis 4:13-21; Mazmur: 118:2-4.13-15.22-24; Bacaan II: 1 Petrus 1:3-9; Bacaan Injil: Yohanes 20:19-31
MINGGU PASKAH II
MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita berkumpul dalam gereja ini dengan penuh sukacita Oktaf Paskah, sekaligus merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Hari Minggu Paskah Kedua bukan sekedar peringatan sejarah, tetapi panggilan bagi kita untuk bertemu dengan kasih Allah yang tak terbatas—kasih yang mengalahkan maut, mengusir ketakutan, dan memulihkan iman yang rapuh.
1. Kehadiran Kristus yang menembus batas demi luka yang menyembuhkan
Bacaan Injil Yohanes 20:19-31 mengantar kita pada sebuah kontras yang tajam: antara ketakutan para murid yang terkunci rapat dan kedamaian Kristus yang menembus batas. Kisah dalam Injil ini diawali dengan ketakutan. Para murid mengunci pintu karena takut kepada orang-orang Yahudi. Ketakutan seringkali membuat kita “mengunci diri” – mengunci hati dan harapan, mengunci masa lalu dari pengampunan, atau mengunci diri dalam rasa bersalah.
Namun, Yesus yang bangkit tidak mengetuk pintu. Ia hadir di tengah-tengah mereka. Kerahiman Ilahi adalah kasih Allah yang tidak menunggu pintu kita terbuka sempurna untuk masuk. Ia menembus dinding ketakutan, keraguan, dan dosa kita untuk menyapa: “Damai sejahtera bagimu”.
Hal yang paling menyentuh dari perjumpaan Kristus dengan para murid-Nya khususnya Thomas adalah, saat Yesus memperlihatkan tangan dan lambung-Nya. Mengapa Yesus yang sudah bangkit dan mulia masih memiliki luka-luka itu? Luka-luka itu semacam “KTP” Yesus Kristus. Luka-luka itulah tanda identitas kasih-Nya bagi para murid-Nya dan Gereja. Ia menunjukkan bahwa Dia yang bangkit adalah Dia yang sama yang telah menderita di salib karena kasih. Bagi Thomas yang ragu, luka Yesus bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti nyata. Yesus tidak memarahi Thomas. Sebaliknya, Ia menawarkan luka-Nya dijamah.
Seringkali kita merasa harus tampil sempurna di hadapan Tuhan. Namun Minggu Kerahiman Ilahi mengingatkan kita bahwa Tuhan justru menjumpai kita melalui luka-luka kita. Kegagalan kita, trauma kita, dan penyesalan kita adalah tempat di mana rahmat Allah ingin mengalir masuk. Thomas sering dicap sebagai “yang tak percaya” atau “si peragu”. Namun, keraguannya sebenarnya adalah kejujuran yang mendalam. Ia tidak mau percaya hanya karena ikut-ikutan. Ketika ia akhirnya berjumpa dengan Yesus, ia memberikan pengakuan iman yang paling tinggi dalam seluruh Injil: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Yesus tidak menghukum keraguan Thomas. Sebaliknya, Ia menemuinya di tempat ia berada, dan membimbingnya menuju iman. Itulah inti dari Kerahiman Ilahi: Allah tidak menjauhi kita saat kita ragu, saat kita lemah, atau saat kita membuat kesalahan. Ia justru mendekat, menawarkan pertolongan, dan memulihkan hati dan menyembuhkan luka hati kita.
Saudari-saudara terkasih, hari ini Yesus datang kepada kita. Ia masuk ke dalam ruang hati kita yang mungkin tertutup oleh ketakutan, keraguan, atau dosa. Ia menyapa kita dengan damai sejahtera-Nya yang melimpah. Seperti para murid yang dipanggil untuk mengampuni dosa orang lain setelah menerima damai dari Yesus, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran Kerahiman Ilahi di dunia ini. Kita diajak untuk hidup Bersatu seperti jemaat perdana, memegang teguh harapan hidup yang diberikan oleh kebangkitan Kristus, dan menanggapi keraguan atau kesulitan orang dengan kasih, bukan penghakiman.
Yesus juga menegaskan:”Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”. Kata-kata ini ditujukan kepada kita. Kita mungkin tidak bisa menjamah luka fisik Yesus secara langsung hari ini, tetapi kita menjamah-Nya melalui:
Ø Sakramen Tobat (Pengakuan Dosa); di situlah kerahiman Ilahi menyembuhkan luka batin kita.
Ø Sesama yang menderita; Setiap kali kita membalut luka sesama, kita sedang menjamah lambung Kristus sendiri.
Di hadapan Kerahiman Ilahi, janganlah kita takut untuk membawa “pintu yang terkunci” dalam hidup kita kepada-Nya. Apakah itu rasa benci yang sulit hilang? Ataukah keraguan akan masa depan? Yesus berdiri di tengah-tengah kita hari ini. Ia tidak membawa penghakiman, justru Ia membawa kedamaian. Biarlah kita menyeru bersama Thomas dengan penuh kerendahan hati:”Ya Tuhanku dan Allahku, Engkaulah Kerahiman yang tanpa batas.”
2. Kerahiman Ilahi mengubah penderitaan menjadi jalan pertumbuhan rohani
Surat Rasul Petrus yang kita dengar hari ini mengajak kita untuk memandang lebih jauh. Rasul Petrus menyebutkan bahwa melalui kebangkitan Yesus Kristus, Allah telah memberikan kita “harapan yang hidup”. Meskipun untuk sesaat kita mungkin harus ditindas oleh berbagai macam pencobaan, hal itu bertujuan untuk menguji kemurnian iman kita—yang jauh lebih berharga daripada emas yang fana.
Kerahiman Allah bukan berarti kita akan hidup tanpa masalah atau kesulitan. Namun, Kerahiman Allah adalah jaminan bahwa di tengah badai kehidupan kita, kita tidak sendirian. Allah menyertai kita, dan iman yang kita miliki akan membawa kita kepada keselamatan yang sudah disediakan-Nya. Kerahiman Allah mengubah penderitaan menjadi jalan pertumbuhan rohani, dan kesulitan menjadi kesempatan untuk merasakan kekuatan Allah yang bekerja di dalam kelemahan kita.
3. Kerahiman Ilahi menjadi sumber kekuatan untuk saling peduli dan mengasihi
Menurut saya, sebagai aplikasi pastoralnya, bacaan pertama dari Kisah Para Rasul sangat penting untuk kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks Kerahiman Ilahi. Dalam Bacaan Pertama dari Kisah Para Rasul, kita melihat gambaran nyata tentang hidup umat yang telah dipulihkan oleh kerahiman Allah. Para murid “bertekun mendengarkan pengajaran para rasul dan hidup dalam persekutuan, dalam pemecahan roti dan dalam doa”. Mereka hidup bersatu hati, memiliki segala sesuatu bersama-sama, dan membagikan apa yang mereka miliki kepada siapa saja yang membutuhkan.
Di tengah dunia yang sering kali terpecah belah dan penuh ketakutan, mereka membangun komunitas yang menjadi saksi hidup tentang kasih Allah. Kerahiman Allah yang mereka terima, menjadi sumber kekuatan untuk saling mengasihi dan saling peduli. Itulah wajah Gereja yang hidup dari Kerahiman Ilahi; Gereja yang terbuka, saling mendukung, dan menjadi tempat pertolongan bagi sesama.
Penutup
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus, hari ini Yesus juga datang kepada kita. Ia masuk ke dalam ruang hati kita yang mungkin tertutup oleh ketakutan, keraguan, atau dosa. Ia menyapa kita dengan damai sejahtera-Nya, dan menawarkan kerahiman-Nya yang melimpah. Seperti para murid yang dipanggil untuk mengampuni dosa orang lain setelah menerima damai dari Yesus, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran kerahiman Ilahi dunia ini. Kita diajak untuk hidup Bersatu seperti Jemaat Perdana, memegang teguh harapan hidup yang diberikan oleh kebangkitan Kristus, dan menanggapi keraguan atau kesulitan orang lain dengan kasih, bukan penghakiman.
Semoga perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ini menjadi momen bagi kita untuk menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita, dan memotivasi kita untuk menyebarkan kasih itu kepada semua orang yang kita temui. Amin.
(P. Antonius Wahyudianto SX)
MALAM PASKAH
MALAM TIRAKATAN KEBANGKITAN TUHAN
« Inilah pesta Paskah, hari Anak Domba Sejati dikurbankan dan pintu rumah umat beriman sudah ditandai dengan darah-Nya. Inilah malam waktu leluhur kami, Bani Israel, Kauhantar keluar dari Mesir melalui Laut Merah lewat jalan yang kering. Inilah malam Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan bangkit sebagai pemenang yang unggul dari kubur-Nya. Pada malam ini semua orang yang percaya kepada Kristus Kaulepaskan dari kedurhakaan dan dosa, Kauanugerahi rahmat dan Kaupersatukan dalam Gerja yang kudus » (Madah Exsultet)
Dalam Madah Exsultet di atas terangkumlah apa yang menjadi inti dari perayaan Malam Paskah yang kita rayakan setiap tahunnya. Sebuah perayaan iman yang menyentuh hidup dan keberadaan suatu bangsa terpilih dulu (Israel) dan sekarang (Gereja). Suatu karya yang luar biasa dari Allah, karya penyelamatan. Manusia diselamatkan oleh Allah dengan, dalam dan melalui misteri Paskah : sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus-Kristus. Jelas bahwa Allah yang mewahyukan diri-Nya seperti ini dan kita yakini adalah Allah yang peduli, solider dengan manusia, penuh cinta dan kemurahan-hati. Allah yang diawal segalanya « melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik », Allah yang memberkati Abraham dan menjanjikan kepadanya segala berkat melalui anak keturunannya. Allah yang sama yang mendengarkan jeritan dan keluhan bangsa terpilih yang ada di bawah tekanan perbudakan di Mesir. Allah pencipta, pemberi dan penjamin kehidupan serta pembebas, itulah identitas dari Dia yang mewahyukan diri-Nya. Nabi Yesaya menyebut-Nya sebagai « Dia yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam nama-Nya ; yang menjadi Penebusmu ialah yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi » (Yes 54, 5).
Allah yang demikian dalam Perjanjian Baru diyakini hadir dalam Firman-Nya yang menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret. Satu lompatan besar dalam sejarah Allah bersama umat-Nya, bahwa Dia yang mengikat perjanjian abadi dengan umat Israel itu akhirnya menjadi manusia Yesus. Perjanjian Abadi itu akhirnya menjadi nyata dengan, dalam dan melalui Yesus dari Nazareth, Allah yang menjadi manusia. Kisah hidup dan karya-karya Yesus dari Nazaret menjadi pemenuhan janji-janji Allah dari semula. Puncaknya adalah ketika Ia ditangkap, diadili, dihukum dengan cara disalibkan, wafat dan dimakamkan. Semua peristiwa hidup si guru keliling dari Nazaret ini baru saja kita kenangkan kembali dalam Tri Hari Suci : Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Seperti Inkarnasi menjadi suatu lompatan besar dalam sejarah manusia bersama Allah, demikian juga hari Sabtu pagi sampai Matahari terbenam menjadi jurang besar (hiatus dalam bahasa Latin) yang menunjukkan kesunyian dan diamnya Yang Ilahi. Seakan-akan benar yang dikatakan Gamaliel « Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap » (Kis 5, 28). Yesus yang wafat disalib dan dimakamkan seakan-akan mau mengatakan bahwa memang benar apa yang Dia mulai dari Galilea sampai dengan Yerusalem hanyalah berasal dari manusia.
Ketika semua seakan-akan sudah selesai dan tidak ada kelanjutannya, ternyata Allah punya rencana lain dengan Yesus dari Nazaret ini. Seperti dikatakan oleh Injil Matius bab 28 ayat 1 : « setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar hari pertama minggu itu » sesuatu yang luar biasa dan tidak pernah ada sebelum-sebelumnya terjadi. Yesus dari Nazaret itu bangkit dari kubur. Allah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Peristiwa ini yang diabadikan dalam cerita/kisah di akhir setiap Injil baik Matius, Markus, Lukas maupun Yohanes. Ya, Yesus Kristus bangkit ! Kematian tak lagi mengurung-Nya di dalam kubur. Sesuatu yang baru terjadi. Dan, kebaruan ini dimulai dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Apa yang dikatakan oleh Seneca (4 M – 65 M) : « Post mortem nihil est ipsaque mors nihil, velocis spatii meta nouissima » (Setelah kematian tidak ada apa-apa bahkan kematian itu sendiri tidak ada apa-apa, ia adalah suatu batas akhir dari satu perjalanan yang cepat), tidaklah demikian halnya yang terjadi pada Yesus post mortem suam menurut kesaksian mereka yang percaya pada waktu kejadian, 2000 tahun yang lalu dan sampai sekarang.
Kebaruan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus lalu berarti apa ? Pertama tentu saja Allah adalah Tuan atas segalanya : hidup segala makhluk di dunia ini dan bahkan di seluruh semesta. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati menggarisbawahi kebenaran ini. Bagi kita orang percaya Tuhan Allah adalah segalanya. Dari Dia kita semua (manusia dan segala sesuatu) berasal dan hidup. Santo Fransiskus dari Assisi menyebutnya dengan istilah Deus meus et omnia. Santa Teresa dari Avilla mungkin akan mengatakan hal yang sama dengan istilah Solo Dios basta ! Atau Santo Agustinus akan mengatakan dengan lebih puitis seperti ini : « Betapa lambat aku akhirnya mencintai-Mu, Oh Keindahan lama yang selalu baru, betapa lambat Kau kucintai! Ketika Engkau berada di dalam diriku, aku malah berada di luar, dan di luar sanalah Kau kucari. Aku, yang tidak layak dicintai ini, melemparkan diri ke antara hal-hal indah yang Kau ciptakan. Dahulu Engkau bersamaku, namun aku sendiri malah tidak bersama-Mu. Segala hal itu membuatku terpisah daripada-Mu; yang jikalau tidak ada dalam diri-Mu, sesungguhnya semua itu bukanlah apa-apa ! » (Pengakuan St. Agustinus, X, 26).
Kedua, kebaruan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus-Kristus mengundang kita untuk percaya dan siap bekerja sama dengan rahmat luar biasa yang selalu Allah karuniakan kepada seluruh ciptaan-Nya. Kebangkitan Yesus memungkinkan suatu kebaruan juga merasuki dan menginspirasi kehidupan kita yang mempercayai peristiwa tiada duanya ini. Kebaruan ini menjadi motif utama dari persekutuan mereka-mereka yang mau mempercayai warta gembira kebangkitan Yesus-Kristus dari antara orang mati. Kebaruan yang dibawa oleh peristiwa kebangkitan ini mengundang kita semua untuk mengusahakan pembaruan-pembaruan baik dalam hidup pribadi maupun bersama. Walter Kasper, teolog dan uskup emeritus Keuskupan Rottenburg-Stuttgart, menyatakan bahwa dengan kebangkitan Yesus-Kristus, janji pemenuhan eskatologis tentang kemanusiaan dan dunia yang baru menjadi nyata (Walter Kasper, Jésus le Christ, Paris : Cerf, 1976, 231-232). Kiranya kebaruan dan pembaruan ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam Kitab Suci kristiani. Awal mula sejarah keselamatan, dalam pewahyuan kristiani, bermula dari penciptaan awal seperti dikisahkan dalam Kitab Kejadian bab 1 dan bab 2. Sejarah keselamatan ini akhirnya berpuncak pada momen penciptaan kembali seperti yang dikatakan oleh Kitab Wahyu bab 21 ayat 5 : « Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru ! ». Dan di tengah kebaruan dan pembaruan itu, kebangkitan Yesus-Kristus menjadi titik pivot, kalau menggunakan istilah finansial, yang tak tergantikan. Dari peristiwa ini, semua berubah. Semoga !
FX. Sadono Agung Widodo, SX
Come and join us!
© 2025 Serikat Misionaris Xaverian. All Rights Reserved. Published by www.asain.co.id