Renungan kepada WKRI
Kasih Allah Kepada Manusia Melalui Kehadiran Para Wanita Demi Karya Keselamatan Allah
Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus hukum apa yang paling utama dalam hukum Taurat, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:33-40, lihat juga Mrk 12:28-31 dan Lukas 10:25-28). Hukum Kasih adalah hukum utama yang diangkat oleh Yesus di mana bagian pertama dikutip dari kitab Ulangan 6:5 dan bagian kedua dari kitab Imamat 19:18.
Hukum kasih juga terjadi dalam relasi Trinitas; Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Karena Yesus hadir sebagai manusia, Ia menunjukkan pentingnya manusia mencintai Allah sepenuh-penuhnya sebab Yesus hadir kepada manusia karena kehendak dan cinta kasih Bapa kepada manusia. Yesus sebagai Putera menghadirkan kasih Allah Bapa kepada manusia sehingga manusia mampu merasakan kasihnya. Sementara itu, Roh Kudus menerima kasih Bapa lewat sang Putera dan menjadi penghibur dan penyerta dalam hidup manusia beriman sehingga kita semua dapat terus mengenal dan mengalami kasih Bapa yang hadir dalam diri Yesus yang dapat kita temukan dalam Kitab Suci, tradisi, dan ajaran Gereja Katolik hingga saat ini.
Begitulah Kasih yang satu dan sama menjiwai relasi Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itulah cinta segitiga yang vital, yang memberikan kehidupan dan menjadi sumber segala sesuatu dan membarui segala sesuatu. Kita percaya kepada Allah Tritunggal bukan percaya kepada dogma atau rumusan, tetapi kepada Allah yang sudah dan terus mengasihi dan membuka diri-Nya untuk kita melalui Anak dan Roh Kudus-Nya.
Dalam ikatan kasihNya dan dengan cara yang unik, Tuhan menyapa setiap manusia agar meperoleh keselamatan. Kasih inilah yang memanggil dan menyapa kita agar kita menanggapi panggilanNya, yaitu panggilan kepada keselamatan dan kesatuan denganNya. Inilah panggilan kita untuk menjawabnya dengan iman. Tuhan ingin agar dengan kurnia iman yang kita terima, kita membuka diri kepada Dia dan kita berusaha untuk mencari, melihat, dan menemukan Allah dalam segala hal. Dalam hal inilah kita semua dituntut untuk kreatif, terbuka kepada segala kemungkinan, dan berjuang untuk melampaui segala kelemahan kita.
MELIHAT KEHENDAK TUHAN MELALUI PARA WANITA DALAM KITAB SUCI
Dari kisah-kisah Kitab Suci dan perjalanan iman para nabi, para rasul, dan para kudus, kita melihat bahwa Allah sebagai inisiator pertama dalam hal mengasihi. Allah menyapa dan menuntun mereka dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang mereka miliki. Meskipun dalam Kitab Suci didominasi kaum maskulin, kita juga menemukan peranan wanita yang sangat besar dalam karya keselamatan umat beriman. Begitupula dalam Kisah Para Rasul, banyak pula kaum non-Yahudi wanita yang percaya kepada pemberitaan Para Rasul dan Paulus. Lebih daripada itu, dalam hal kekudusan, banyak orang-orang kudus perempuan menunjukkan kualitasnya sebagai pengikut Kristus. Dari sinilah hendaknya, kita belajar dari para tokoh-tokoh tersebut akan kita semakin menjadi seorang Kristiani sejati.
Sungguh pun kita menemukan dosa manusia pertama disebabkan oleh Hawa dan menjadi dosa Adam, namun kiranya kita perlu merefleksikan bahwa justru melalui dialah kita menemukan rahmat-rahmat yang dapat kita rasakan sekarang ini. Justru melalui relfeksi alkitabiah ini, Gereja Katolik tidak menekankan dosa manusia pertama, melainkan pada rahmat karya penebusan kepada manusia yang berpuncak pada misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Di sinilah akhirnya kita dapat melihat maksud dari rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam matu, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus, Kristus Tuhan kita” Roma 5:20-21). Perikop ini tidak mengartikan bahwa manusia bisa berbuat dosa sekehendak hatinya, melainkan manusia harus menyadari bahwa kasih karunia Allah, oleh karena kebenaran, dapat mengantarkan ke hidup yang kekal oleh Kristus. Kutipan ini terasa nyaman di telinga kita, namun sejatinya, kutipan ini mengajak kita untuk bertobat secara sungguh-sungguh dengan melalui jalan kebenaran, yaitu Kristus.
Dari para nabi dalam Perjanjian Lama, salah satu tokoh besar tokoh nabi wanita adalah Ester (Hadassah) dikenal sebagai seorang nabi wanita yang memiliki peranan besar dalam melindungi bangsa Israel di bawah naungan raja Persia, Ahasuerus (baca Kitab Ester). Deborah, dalam kitab Hakim-hakim juga menyuarakan pekik kemenangan bangsa Israel atas orang-orang Israel. Selain itu, kita juga menemukan para perempuan sebagai nabi para ibu seperti Sarah (istri Abraham) dan Hana (ibu dari Samuel). Kehadiran mereka, tidak lain adalah demi keselamatan kaum Israel. Karya keselamatan inilah wujud nyata kasih Tuhan kepada manusia.
Perjanjian Baru menjadi terang dan jalan keselamatan bagi umat manusia. Kehadiran Maria, ibu Yesus dengan fiatnya membuka karya keselamatan melalui Yesus Kristus. Bunda Maria adalah teladan utama perempuan di seluruh dunia. Ia menggunakan imannya dan hatinya yang suci untuk menyimpan segala perkara yang Tuhan berikan di dalam hatinya. Sebagaimana Tuhan mencintai Maria, demikian pula Maria mencintai Yesus. Cinta inilah yang mempersatukan dan menguatkan perjalanan keluarga kudus untuk menggenapi karya keselamatan Tuhan. Oleh karena ketaatannya dan cintanya yang besar, Gereja melihat Maria sebagai bunda Tuhan yang membuka karya keselamatan cinta kasih Allah yang semula hanya kepada kaum Israel, sekarang ditujukan kepada semua bangsa.
Selain Maria bunda Yesus, ada Maria Magdalena (perempuan yang dibebaskan Yesus dari tujuh setan (Lukas 8:2), dan menyertai Yesus sampai pada penyaliban dan kebangkitan Kristus (Yoh. 19:25,20:18)), Yohana (isteri Khuza, pegawa istana yang disembuhkan Yesus (Yoh. 4:46-53), Maria dan Marta, saudara Lazarus (Luk 10;38-42), dan ada beberapa wanita-wanita lain yang melayani dalam perjalanan Yesus (Lukas 8:3). Para wanita ini dengan setia menjadi pengikut dan sahabat Tuhan;, di saat sengsara Tuhan, mereka menemani; di saat kematian, mereka menjadi saksi; di saat kebangkitan mereka bersukacita; dan setelah kebangkitan, mereka menjadi pewarta dan menerima kuasa untuk menjadi saksi-saksiNya (Kis 1:14-15).
Sejak Perjanjian Lama sampai pada kebangkitan Yesus, kita menemukan bahwa Tuhan memasukkan wanita sebagai sarana karya keselamatan Allah. Sekalipun dalam Perjanjian Lama perempuan kurang mendapat tempat, Yesus berusaha mengangkat derajat wanita yang semula sebagai kelas ketiga dalam masyarakat, menjadi pewarta Injil yang ulung di Perjanjian Baru. Dengan melibatkan wanita dalam pelayanan dan pengajaranNya, Yesus menunjukkan bahwa mereka termasuk bagian dari karya keselamatan dan karya pewartaan. Yesus menghormati perempuan, dan memperlakukannya setara dengan laki-laki, sekaligus menawarkan kepada mereka untuk menjadi saksi bagi hidup Kristus. Oleh karena itu, dengan menyadari panggilan ini, para perempuan juga mengenyam tanggung jawab untuk berpartisipasi aktif dan kreatif sebagai pewarta Kerajaan Allah.
TANGGUNG JAWAB PARA WANITA: PERJALANAN KASIH DI DALAM TUHAN
Berawal dari Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja Katolik, kita menyadari bahwa betapa luasnya karya keselamatan Allah kepada umatNya. Sekalipun hirarki masih berpusat pada kaum laki-laki, peranan kaum perempuan dalam Gereja dan karya kerasulan mereka diangkat oleh Gereja sebagai bagian yang tak terpisahkan. Hal ini terjadi sebagaimana Allah memilih dan memanggil Maria sebagai Bunda Allah, demikian pun Gereja mengangkat harkat dan martabat wanita.
Dengan mengingat bahwa Yesus berusaha mengangkat derajat perempuan dan menempatkan mereka sebagai bagian dari karya keselamatan Allah, kita hendaknya mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atai orang Yunani, tidak ada hamba atau orang Merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus Kristus (Galatia 3:28). Kesatuan di dalam Kristus ini hendaknya dimengerti sebagai kesatuan kasih yang mana Kristus adalah kepala dan kita semua adalah anggota-anggotanya. Paulus ingin menunjukkan bahwa setiap orang punya hak yang sama, yaitu kesatuan di dalam Yesus Kristus. Namun, perlu kita mengerti bahwa dalam kesatuan ini, kita dipanggil untuk saling melengkapi sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan sesuai dengan kemampuan tiap anggota. Hal ini kemudian direfleksikan dalam ensiklik Mystici Corporis Christi (Tubuh Mistik Kristus), di mana Paus Pius XII menekankan bahwa untuk menjadi benar-benar bagian dalam tubuh mistik Kristus, seseorang harus menjadi anggota Gereja Katolik.[1] Perihal kesatuan Gereja dan tugas utama umat beriman juga ditegaskan dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium yang menekankan panggilan umat Kristiani kepada terang sejati, Yesus Kristus.[2]
Dalam terang ajaran Gereja, umat Allah dipanggil sepenuhnya untuk sadar bahwa tugas dan tanggung jawab sebagai anggota Gereja bermacam-macam. Setiap anggota dipanggil dan diberi tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika kita membaca perumpamaan tentang talenta (lih. (Matius 25:14-30), kita menyadari bahwa, jika kita melakukan dengan totalitas tanggung jawab yang diemban, maka Tuhan akan memberikan kelimpahan kepada kita. Akan tetapi, jika kita melalaikan apa yang harus menjadi tanggung jawab kita, Tuhan akan mengambilnya dari kita. Tentu kita sudah mendengar dan membaca perumpamaan ini berkali-kali, namun, apakah kita benar-benar telah melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan? Jadi, hal mendasar yang perlu kita lakukan adalah melayani sesuai dengan kemampuan kita. Jika kita diberi tanggung jawab yang kiranya lebih besar atau terkesan terlalu berat, hendaknya kita percaya bahwa tanggung jawab itu sebenarnya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, hanya saja keraguan sering menimpa diri kita untuk berbuat lebih. Oleh karena itu, Tuhan senantiasa menuntut kita agar kita melakukan segala hal dengan segenap hati, akal budi, dan kemampuan kita.
Jika kita berbicara tentang tanggung jawab para wanita dalam perjalanan Tuhan, kita pertama-tama perlu melihat bunda Maria. Ia semula menerima kabar dari malaikat Tuhan (lih. Lukas 1:26-38). Meskipun (kira-kira) merasa takut dan ragu, berkat salam dari malaikat, maria berani menerima kehendak Allah sekalipun ia akan dianggap sebagai wanita dursila. Akan tetapi, kerelaannya ini menjadi teladan bagi kita semua untuk berpartisipasi bersama Maria untuk menerima Yesus di dalam hidup kita. Kita perlu juga melihat bahwa menerima Yesus dalam konteks bunda Maria berarti kita juga siap menerima malu dan menerima segala konsekuensi atas tanggapan kita kepada kehendak Tuhan. Ketika Maria mengunjungi Elisabet (lih. Lukas 1 39-56), ia membawa sukacita dan kegembiraan. Kidung pujian dilantunkan Maria sebagai seorang yang terberkati dan menjadi berkat bagi sesama. Kesadaran Maria membawa Yesus adalah kesadaran seorang perempuan misionaris. Panggilan misioner Maria untuk mewartakan kabar gembira adalah panggilan kita semua. Hal yang paling ditekankan dalam kunjungan ini adalah kabar gembira, bukan kabar gossip yang cenderung ‘digosok makin sip’. Kabar Gembira adalah penghiburan bagi yang membutuhkan. Kunjungan ini semestinya menyadarkan kita betapa baiknya jika kita belajar untuk mengunjungi sesama kita yang membutuhkan dan berbicara dari hati ke hati dalam terang iman dan dalam penyerahan diri seutuhnya kepada kehendak Tuhan agar kita bisa mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang Tuhan kehendaki kepada kita.
Kesetiaan Maria kepada Kristus yang menderita, disalib, dan wafat, hendaknya menginspirasi kita untuk terus setia menemani sesama kita, khususnya yang sedang menanggung penderitaan. Dalam hal ini, tentu godaan untuk menjauhi sesama yang tertimpa masalah sangatlah kuat. Kadang-kadang rasa solider dan simpati kepada sesama dikalahkan oleh rasa malu atau khawatir jikalau aku membantu orang tersebut, aku juga akan ditimpa malapetaka atau masalah yang sama. Tuhan Yesus pernah mengingatkan kita, “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Sesungguhnya, inilah suatu hal yang kita perjuangkan, yaitu solider dan simpati kepada sesama yang membutuhkan. Panggilan untuk keselamatan adalah kepada semua orang. Memang benar dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada diri sendiri, namun alangkah baiknya bila semua umat beriman selamat bersama sebagai saudara.
Hal terakhir yang perlu ditekankan sebagai tanggung jawab bersama adalah menjadi se’iya’ sekata dalam perkataan dan perbuatan (1 Petrus 3:8-9). Tentu akan ada suatu tantangan dalam menentukan keputusan bersama. Kita perlu bijaksana dalam melihat hal terbaik dari antara yang paling baik. Tugas ini tidak mudah. Ada yang punya kepentingan pribadi, ada pula yang dengan tulus membantu, dan ada pula yang membantu dengan mengharapkan sesuatu. Hal-hal ini tidak bisa dipungkiri dan hendaknya dilihat sebagai suatu tantangan agar setiap anggota tumbuh bersama sebagai satu kesatuan dalam iman dan kasih. Akan tetapi, jika ada perpecahan di mana seseorang atau suatu kelompok berusaha memecah kesatuan itu atau menyesatkan hendaknya batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut (lih. Matius 18:6).
AKU DENGAN SEGALA KELEBIHAN DAN KELEMAHANKU MELAYANI TUHAN
Ada 7,8 milyar manusia di bumi dan setiap dari kita memiliki kepribadian, keunikan dan kekhasan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa salah seorang dari kita mirip dengan yang lain, namun masih tetap ada perbedaan. Sungguhpun demikian, kita dikaruniai bakat atau talenta yang menopang hidup kita untuk berkarya di dunia ini. Dalam segala perbedaan, kita semua dipersatukan dengan cara saling melengkapi satu sama lain.
WKRI: WANITA PERJANJIAN BARU
Dalam katan kasih kita harus sadar bahwa kita ingin diperlakukan dengan baik dan kita dipanggil juga untuk memperlakukan orang lain dengan baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Yesus sendiri mengingatkan kita untuk mengasihi sesama seperti Tuhan mengasihi kita (Yohanes 13:34), dan juga “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah inti Taurat dan Nabi-nabi” (Matius 7:12). Kita juga telah mendengarkan bagaimana Maria memberikan hidupnya untuk menerima Tuhan. Oleh karena itu, ada hal-hal dasar yang perlu kita perjuangkan bersama sebagai wanita Katolik:
- Hidup doa dan pengembangan iman.
Dalam hidup doa dan pengembangan iman, kita dipanggil untuk menyediakan waktu untuk relasi kita dengan Tuhan dalam doa, meditasi, dan mebaca Kitab Suci. Suatu hal-hal sederhanya yang membutuhkan ketekunan dan disiplin. Jika ada kesempatan untuk rekoleksi atau retret, kita bisa mengambil kesempatan itu sebagai bentuk latihan kita untuk mengenal Tuhan secara lebih mendalam.
- Partisipasi aktif dalam kegiatan menggereja.
Ikut serta dalam kegiatan menggereja berarti kita berusaha untuk masuk ke dalam komunitas Gereja tanpa melihat dan memandang latar belakang orang lain karena di dalamnya, kita semua telah dipersatukan oleh Kristus. Hendaknya kelebihan kita menjadi kekuatan untuk melayani orang lain dan kelemahan kita menjadi penggerak untuk berkembang lebih baik dalam iman, harapan, dan kasih. Partisipasi kita dalam Gereja adalah partisipasi kasih yang tulus dan ikhlas. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menjadi seorang lektor, pemazmur, dirigen, atau seorang katekis. Selain itu, dengan kemampuan khusus yang diberikan Tuhan, kita juga dipanggil untuk berani menjadi pemimpin serta pelayan dalam kehidupan Gereja.
- Aksi sosial, derma, dan perjuangan untuk kesetaraan sosial.
Di hadapan berbagai masalah dalam hidup bermasyarakat kita dipanggil untuk terus mewartakan Kristus dan menyerukan keadilan sosial. Kita terus berperang melawan kemiskinan, ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam pelayanan kepada orang miskin, jikalau ada waktu, kita musti menyediakan, tenaga, harta, dan niat kita untuk melayani orang miskin dengan memberikan hal-hal yang dapat menunjang hidup mereka.
- Kreatif dalam mengembangkan bakat.
Jika kita punya bakat, kita harus mengembangkannya dan mampu membagikannya kepada orang lain. Pengembagan bakat dan kreativitas ini dapat dilakukan melalui karya seni, musik, tulisan refleksi, tik-tok rohani, ataupun hal-hal lainnya yang sekiranya dapat memberikan inspirasi kristiani kepada orang lain. Kita pun juga harus mengingat bahwa bakat yang dianugerahkan oleh Tuhan harus kita kembangkan dan kita bagikan agar berbuah banyak.
- Semangat pelayanan dan pewartaan.
Melayani adalah prinsip dasar seorang Kristiani. Yesus menunjukkan teladannya dalam semangat pelayanan. Salah satu peristiwa besar dalam melayani adalah perjamuan paskah atau yang sering kita rayakan saat Kamis Putih. Semangat melayani memerlukan hati yang hangat dan terbuka kepada orang lain. Jika kita membuka hati kepada sesama, artinya kita juga membuka hati kepada Tuhan. Perlu dihindari bahwa kita membuka hati dengan mengharapkan imbalan. Membuka hati harus dengan tulus dan ikhlas. Bilapun orang lain tidak menghargai apa yang kita perjuangkan, hendaknya kita jangan berkecil hati, sebab di sinilah kesetian kita untuk melayani diuji. Sementara itu, jika dikatakan dalam pelayanan berarti melayani Tuhan, maka kita pun melayani sebagai wujud pewartaan di mana di saat melayani, kita membawa nama Tuhan Yesus sebagai sumber inspirasi dan semangat bagi kita. Selain itu, di saat melayani, kita juga harus mampu memiliki kemampuan untuk melihat Yesus dalam diri sesama bilapun hati kita tersayat-sayat karena kita kurang mendapat penghargaan atas usaha pelayanan kita. Dari sini hendaklah kita, dalam melayani dan mewartakan, berani menatap Kristus yang tersalib. Melalui Dialah sebenarnya kita menggali inspirasi dan hidup kita sebagai umat Kristiani.
Akhir kata, kita perlu melihat dan menyadari bahwa hadirnya WKRI dalam komunitas Gereja di Indonesia adalah penting bukan sebagai bumbu penyedap saja, melainkan sebagai perempuan dalam Perjanjian Baru yang siap untuk menerima Yesus dalam hati, budi, pikiran, dan badan seperti bunda Maria, menjadi teman seperti Maria dan Martha, menjadi perempuan yang setia mengikut Yesus, dan akhirnya berani menjadi wanita yang setia bahkan di saat melihat penderitaan besar Kristus yang tersalib. Di sinilah kita dipanggil untuk bersatu di dalam Kristus.
Perlu kita ingat bahwa melayani Tuhan sebagai seorang wanita, pada dasarnya adalah menghidupi dengan sungguh semangat iman yang suci dan murni di dalam hidup sehari-hari di manapun dan kapanpun kita berada. Kita juga musti terbuka terhadap inspirasi Roh Kudus dan percaya sepenuhnya kepada kehendak dan bimbingan Tuhan yang menginginkan kita untuk menjadi penyelamat dan penyalur berkat agar tercapainya kehendak Allah di bumi, yaitu keselamatan jiwa-jiwa kaum beriman. Oleh karena itu, perlu kita merefleksikan sejauh mana saya benar-benar menghayati iman dan panggilan saya sebagai anggota WKRI.