HARI MINGGU PRAPASKAH I
Bacaan I: Kej 2:7-9.3:1-7; Mzm 51:2-4.5-6a.12-13.14.17; Bacaan II: Roma 5:12.17-19; Bac. Injil: Mat 4:1-11
Hari Minggu Prapaskah I
Yesus Kristus adalah contoh yang unggul dalam menghadapi segala godaan. Meskipun Dia adalah Allah, Dia tetap menunjukkan teladan dalam mengabdi Allah dan menghancurkan yang jahat.
Pada hari Rabu Abu yang lalu, kita sudah menerima Abu di dahi kita. Dengan menerima Abu itu, kita diingatkan bahwa kita berasal dari debu atau tanah dan akan kembali ke tanah. Sejalan dengan itu, secara implisit kita diajak untuk tidak bersikap sombong melainkan rendah hati sebagaimana debu yang selalu kita injak, selalu berada di bawah telapak kaki kita, disematkan di dahi atau kepala kita. Adam dan Hawa yang diperdaya ular/iblis itu, jatuh ke dalam dosa. Mereka tidak taat pada Sabda Allah dan ingin menjadi seperti Allah. Konsekuensinya, ketidaktaatan dan kesombongan mereka telah membawa kemanusiaan ke dalam dosa. Namun, Yesus Kristus, Anak Allah, Adam baru yang dengan ketaatan-Nya yang total dan kerendahan hati-Nya yang mendalam, yang kemudian memuncak pada peristiwa salib, mengangkat dan menyelamatkan manusia dari dosa.
Sebagai manusia, Yesus juga diperdaya oleh Iblis. Ia yang telah dinyatakan sebagai Anak Allah saat pembaptisan, dituntun oleh Roh Kudus ke Padang Gurun untuk dicobai iblis. Kisah ini menjadi sangat penting karena menunjukkan kepada kita, Yesus mampu melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, termasuk Adam dan Hawa. Singkatnya, di Padang Gurun, Ia menang melawan setan. Kita perlu menyadari setan itu muncul dan mencobai Yesus saat Ia berada pada posisi lemah. Pencobaan pertama adalah setelah Yesus berpuasa, tentunya Ia sangat lapar, saat itulah Iblis itu menggodanya. “Jika engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Di sini, Setan tidak sekadar menggoda Yesus untuk mengisi perut-Nya yang sangat lapar, melainkan mempertanyakan identitas Yesus sebagai Anak Allah dan, karena itu, setan minta bukti bahwa Yesus, Anak Allah, sungguh-sungguh berkuasa yakni dengan mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Apa pun godaan setan itu, Yesus menghancurkannya dengan ketaatan-Nya kepada Sabda Tuhan. Ini bukti sekaligus pembelajaran berharga bagi kita bahwa Sabda Tuhan itu sungguh-sungguh menguatkan dan menghidupkan, lebih-lebih dalam situasi sulit. Jika Sabda Tuhan itu sungguh-sungguh direnungkan/dimeditasikan, dirasakan dan dihidupi maka menjadi chiken soup for the soul, mengenyangkan bagi yang lapar, memuaskan bagi yang dahaga, menguatkan bagi yang takut, menghibur bagi yang sedih, menyenangkan bagi yang sepi, meringankan bagi yang berbeban- berat, memulihkan bagi yang sakit, membawa terang bagi yang gelap, melegakan bagi yang lelah, membawa pengharapan bagi yang putus asa.
Namun demikian, dalam pencobaan kedua, kita tahu iblis juga tahu tentang kitab Suci karena dia mengutip mazmur 91 yang menjanjikan perlindungan Allah kepada umat-Nya. “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.” Jawab Yesus, “ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!” Ini peringatan bahwa tidak cukup hanya mengetahui isi Kitab Suci sebagai pengetahuan belaka, sebab setan bisa melakukan hal yang sama; tidak cukup hanya menjalani kewajiban ke Gereja setiap hari minggu; tidak cukup hanya berbuat baik tanpa doa dan bekerja. Sebagai orang beriman, Kita mesti menghidupi isi kitab Suci itu; mesti berusaha dan terus berusaha menjadi kitab Suci yang hidup, mengkonkretkan Sabda Allah dalam sikap dan perbuatan kasih yang nyata. Dengan cara demikian, kita berakar pada Sabda Allah itu, Sabda yang telah menjelma menjadi manusia yakni Yesus Kristus. Ia telah dilahirkan untuk kita, menyertai kita, hidup di antara kita dan berjalan bersama kita, dan bahkan telah rela menderita sengsara dan wafat untuk menyelamatkan kita. Kita mesti meneladani cara hidup Kristus yang selalu bersikap rendah hati, tergerak hati dan berbelas kasih, berpikir positif dan selalu mencari waktu menepi untuk berdoa disela-sela kesibukan-Nya.
Dalam pencobaan ketiga, Yesus dibawa ke gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. Semua yang dilihatnya itu akan menjadi milik-Nya asalkan Ia menyembah setan itu. “Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Kata Yesus. Memang benar Yesus datang untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia ini. Namun dia tidak tergoda oleh bujukan setan untuk menyembahnya demi mendapatkan semua kerajaan dunia. Yesus datang untuk membangun kerajaan-Nya sendiri di dunia ini dengan jalan Salib, jalan pengorbanan: Ia menjelma menjadi manusia, mengosongkan diri, mengambil rupa sebagai seorang hamba, menderita sengsara, taat sampai mati bahkan sampai mati di salib. Jalan Salib inilah yang mengantar Yesus kepada kemenangan sejati yang menjadi nyata dalam kebangkitan-Nya. Inilah saatnya semua lutut bertekuk dan segala lidah mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan. Dialah yang akan menghakimi semua bangsa dan semua kerajaan di bumi. Pencobaan ini mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang mulia di hadapan Allah tidak didapatkan dengan mudah, mesti melewati penderitaan sebagai konsekuensi dari ketaatan total kepada Sabda Allah. Ketaatan atas dasar cinta menjadikan Yesus kuat dan tidak berpaling kepada bujukan yang lain.
Dengan merenungkan kisah pencobaan ini, kita diharapkan untuk mengenal dan menyadari Padang Gurun kita masing-masing agar kita kelak siap menghadapi cobaan-cobaan dalam hidup kita baik secara fisik, psikis, mental maupun spiritual. Dengan belajar dari Yesus, kita akhirnya tahu bahwa Sabda Allah adalah sumber utama dalam menguatkan, menerangi dan melindungi kita dalam perjuangan menghadapi dan mengalahkan segala cobaan-cobaan hidup kita. Kita mesti berakar pada Yesus Kristus, Sang Sabda yang telah menjelma menjadi manusia. Kita sebagai manusia yang berdosa mesti mengikuti undangan-Nya untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Kita diajak untuk memperbaharui diri, membersihkan hati, menerima dan melaksanakan Sabda Allah dengan tekun, secara khusus dalam masa pra-paskah ini sehingga kita sungguh-sungguh menjadi manusia baru dalam Tuhan.
Kita mesti terus berusaha sembari memohon rahmat Tuhan agar kita mampu menjalin relasi yang dekat dengan-Nya, meneladani sikap, tindakan dan kepribadian-Nya serta mengikuti Jalan Salib-Nya agar kelak kita diikutsertakan dalam kemuliaan-Nya. Semoga dalam masa Pra-paskah ini, kita memberi waktu yang cukup dalam merenungkan dan secara khusus menghidupi Sabda Allah dengan penuh iman dan cinta kasih agar kita mampu mengalahkan segala cobaan dan kecenderungan-kecenderungan yang tidak teratur dalam diri kita, mampu mengalahkan keegoisan diri kita, mampu menjalankan pantang dan puasa dengan baik, mampu berbuat amal dan memberi waktu yang cukup untuk berdoa. Semoga Roh Kudus yang telah kita terima membimbing dan menemani kita dalam perziarahan hidup kita secara khusus dalam menjalani pantang dan berpuasa, berbuat baik dan berdoa di masa pra-paskah yang penuh berkat ini.
Tuhan memberkati.
P. Rejino, SX