MINGGU PASKAH II
Bacaan I: Kis 4:13-21; Mazmur: 118:2-4.13-15.22-24; Bacaan II: 1 Petrus 1:3-9; Bacaan Injil: Yohanes 20:19-31
MINGGU PASKAH II
MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita berkumpul dalam gereja ini dengan penuh sukacita Oktaf Paskah, sekaligus merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Hari Minggu Paskah Kedua bukan sekedar peringatan sejarah, tetapi panggilan bagi kita untuk bertemu dengan kasih Allah yang tak terbatas—kasih yang mengalahkan maut, mengusir ketakutan, dan memulihkan iman yang rapuh.
1. Kehadiran Kristus yang menembus batas demi luka yang menyembuhkan
Bacaan Injil Yohanes 20:19-31 mengantar kita pada sebuah kontras yang tajam: antara ketakutan para murid yang terkunci rapat dan kedamaian Kristus yang menembus batas. Kisah dalam Injil ini diawali dengan ketakutan. Para murid mengunci pintu karena takut kepada orang-orang Yahudi. Ketakutan seringkali membuat kita “mengunci diri” – mengunci hati dan harapan, mengunci masa lalu dari pengampunan, atau mengunci diri dalam rasa bersalah.
Namun, Yesus yang bangkit tidak mengetuk pintu. Ia hadir di tengah-tengah mereka. Kerahiman Ilahi adalah kasih Allah yang tidak menunggu pintu kita terbuka sempurna untuk masuk. Ia menembus dinding ketakutan, keraguan, dan dosa kita untuk menyapa: “Damai sejahtera bagimu”.
Hal yang paling menyentuh dari perjumpaan Kristus dengan para murid-Nya khususnya Thomas adalah, saat Yesus memperlihatkan tangan dan lambung-Nya. Mengapa Yesus yang sudah bangkit dan mulia masih memiliki luka-luka itu? Luka-luka itu semacam “KTP” Yesus Kristus. Luka-luka itulah tanda identitas kasih-Nya bagi para murid-Nya dan Gereja. Ia menunjukkan bahwa Dia yang bangkit adalah Dia yang sama yang telah menderita di salib karena kasih. Bagi Thomas yang ragu, luka Yesus bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti nyata. Yesus tidak memarahi Thomas. Sebaliknya, Ia menawarkan luka-Nya dijamah.
Seringkali kita merasa harus tampil sempurna di hadapan Tuhan. Namun Minggu Kerahiman Ilahi mengingatkan kita bahwa Tuhan justru menjumpai kita melalui luka-luka kita. Kegagalan kita, trauma kita, dan penyesalan kita adalah tempat di mana rahmat Allah ingin mengalir masuk. Thomas sering dicap sebagai “yang tak percaya” atau “si peragu”. Namun, keraguannya sebenarnya adalah kejujuran yang mendalam. Ia tidak mau percaya hanya karena ikut-ikutan. Ketika ia akhirnya berjumpa dengan Yesus, ia memberikan pengakuan iman yang paling tinggi dalam seluruh Injil: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Yesus tidak menghukum keraguan Thomas. Sebaliknya, Ia menemuinya di tempat ia berada, dan membimbingnya menuju iman. Itulah inti dari Kerahiman Ilahi: Allah tidak menjauhi kita saat kita ragu, saat kita lemah, atau saat kita membuat kesalahan. Ia justru mendekat, menawarkan pertolongan, dan memulihkan hati dan menyembuhkan luka hati kita.
Saudari-saudara terkasih, hari ini Yesus datang kepada kita. Ia masuk ke dalam ruang hati kita yang mungkin tertutup oleh ketakutan, keraguan, atau dosa. Ia menyapa kita dengan damai sejahtera-Nya yang melimpah. Seperti para murid yang dipanggil untuk mengampuni dosa orang lain setelah menerima damai dari Yesus, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran Kerahiman Ilahi di dunia ini. Kita diajak untuk hidup Bersatu seperti jemaat perdana, memegang teguh harapan hidup yang diberikan oleh kebangkitan Kristus, dan menanggapi keraguan atau kesulitan orang dengan kasih, bukan penghakiman.
Yesus juga menegaskan:”Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”. Kata-kata ini ditujukan kepada kita. Kita mungkin tidak bisa menjamah luka fisik Yesus secara langsung hari ini, tetapi kita menjamah-Nya melalui:
Ø Sakramen Tobat (Pengakuan Dosa); di situlah kerahiman Ilahi menyembuhkan luka batin kita.
Ø Sesama yang menderita; Setiap kali kita membalut luka sesama, kita sedang menjamah lambung Kristus sendiri.
Di hadapan Kerahiman Ilahi, janganlah kita takut untuk membawa “pintu yang terkunci” dalam hidup kita kepada-Nya. Apakah itu rasa benci yang sulit hilang? Ataukah keraguan akan masa depan? Yesus berdiri di tengah-tengah kita hari ini. Ia tidak membawa penghakiman, justru Ia membawa kedamaian. Biarlah kita menyeru bersama Thomas dengan penuh kerendahan hati:”Ya Tuhanku dan Allahku, Engkaulah Kerahiman yang tanpa batas.”
2. Kerahiman Ilahi mengubah penderitaan menjadi jalan pertumbuhan rohani
Surat Rasul Petrus yang kita dengar hari ini mengajak kita untuk memandang lebih jauh. Rasul Petrus menyebutkan bahwa melalui kebangkitan Yesus Kristus, Allah telah memberikan kita “harapan yang hidup”. Meskipun untuk sesaat kita mungkin harus ditindas oleh berbagai macam pencobaan, hal itu bertujuan untuk menguji kemurnian iman kita—yang jauh lebih berharga daripada emas yang fana.
Kerahiman Allah bukan berarti kita akan hidup tanpa masalah atau kesulitan. Namun, Kerahiman Allah adalah jaminan bahwa di tengah badai kehidupan kita, kita tidak sendirian. Allah menyertai kita, dan iman yang kita miliki akan membawa kita kepada keselamatan yang sudah disediakan-Nya. Kerahiman Allah mengubah penderitaan menjadi jalan pertumbuhan rohani, dan kesulitan menjadi kesempatan untuk merasakan kekuatan Allah yang bekerja di dalam kelemahan kita.
3. Kerahiman Ilahi menjadi sumber kekuatan untuk saling peduli dan mengasihi
Menurut saya, sebagai aplikasi pastoralnya, bacaan pertama dari Kisah Para Rasul sangat penting untuk kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks Kerahiman Ilahi. Dalam Bacaan Pertama dari Kisah Para Rasul, kita melihat gambaran nyata tentang hidup umat yang telah dipulihkan oleh kerahiman Allah. Para murid “bertekun mendengarkan pengajaran para rasul dan hidup dalam persekutuan, dalam pemecahan roti dan dalam doa”. Mereka hidup bersatu hati, memiliki segala sesuatu bersama-sama, dan membagikan apa yang mereka miliki kepada siapa saja yang membutuhkan.
Di tengah dunia yang sering kali terpecah belah dan penuh ketakutan, mereka membangun komunitas yang menjadi saksi hidup tentang kasih Allah. Kerahiman Allah yang mereka terima, menjadi sumber kekuatan untuk saling mengasihi dan saling peduli. Itulah wajah Gereja yang hidup dari Kerahiman Ilahi; Gereja yang terbuka, saling mendukung, dan menjadi tempat pertolongan bagi sesama.
Penutup
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus, hari ini Yesus juga datang kepada kita. Ia masuk ke dalam ruang hati kita yang mungkin tertutup oleh ketakutan, keraguan, atau dosa. Ia menyapa kita dengan damai sejahtera-Nya, dan menawarkan kerahiman-Nya yang melimpah. Seperti para murid yang dipanggil untuk mengampuni dosa orang lain setelah menerima damai dari Yesus, kita juga dipanggil untuk menjadi saluran kerahiman Ilahi dunia ini. Kita diajak untuk hidup Bersatu seperti Jemaat Perdana, memegang teguh harapan hidup yang diberikan oleh kebangkitan Kristus, dan menanggapi keraguan atau kesulitan orang lain dengan kasih, bukan penghakiman.
Semoga perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ini menjadi momen bagi kita untuk menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita, dan memotivasi kita untuk menyebarkan kasih itu kepada semua orang yang kita temui. Amin.
(P. Antonius Wahyudianto SX)