MINGGU PASKAH III
Bacaan I: Kis 2:14.22-33; Mazmur: 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Bacaan II: 1 Petrus 1:17-21; Bacaan Injil: Lukas 24:13-35
MINGGU PASKAH III
MATAKU TERTUJU KEPADA TUHAN
JANGAN SEGER
Minggu yang lalu saya berkunjung ke tempat kakak saya. Di tempat kakak saya ini, saya dimasakkan ‘Jangan Seger’. ‘Jangan Seger’ adalah istilah dalam bahasa Jawa. Jangan berarti Sayur dan Seger berarti Segar. Sayur ini merupakan sayur sederhana hanya berbagai macam sayuran (Kacang panjang, Bayam, Wortel, Kol dll) yang direbus di air yang bening. Maka istilah lain dari ‘Jangan Seger’ adalah Sayur Bening.
Saya tidak ingin menulis soal sayur ini sebenarnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika saya makan dengan sayur ini, saya ingat ibu saya. Kakak saya mampu memasak sayur ini sedemikian rupa sampai menyerupai yang dibuat oleh ibu saya dulu. Melalui sayur ini, melalui kecapan rasa ini seolah membuka pintu memori dengan ibu saya yang telah tiada.
Saya mengingat pengalaman ini ketika membaca, merenungkan dan memeditasikan bacaan-bacaan Minggu Paskah III ini.
Betapa tidak, ditengah keterpecahan hidup dan di tengah ketidakbersamaan….ketika makan bersama, memecahkan roti… pintu itu terbuka, memori tentang Sang Guru muncul, kebersamaan dengan Sang Guru yang ‘hilang’ dialami. Hidup yang terpecah-pecah, kalah, bingung, putus asa, lunglai, seolah-olah berjalan ke kematian berubah drastis. Yang hilang datang, yang padam menyala, bahkan berkobar.
Ekaristi adalah Paskah kita. Sebelum masuk gereja mungkin hidup kita terpecah-pecah, merasa berjalan sendiri, merasa kalah, banyak hutang, bingung, lunglai tanpa harapan seperti dua murid Emmaus. Dalam Ekaristi Yesus memecah roti. Pintu terbuka. Memori hidup muncul. Dia yang mencintai kita ada dengan kita. Seolah keterpecahan, kesendirian, kelunglaian kita terserap dalam memori salibNya dan dibaharui dalam kebangkitanNya.
Bumi kita ini mungkin seperti murid Emmaus. Sejarah Bumi mungkin seolah berjalan ke arah Barat arah kematian. Sampah menumpuk, hutan dibabat habis, bumi dilukai dan sakit. Bumi berjalan sendiri. Bumi dimusuhi oleh manusia. Dengan dijadikannya tahun 2026 sebagai Tahun St. Fransiskus Assisi, semoga menjadi saat pemecahan roti, titik pembaharuan. Pintu kesadaran baru terbuka. Harmoni manusia dan alam terjadi. Seperti St. Fransiskus Assisi, semoga manusia mampu memandang alam sebagai saudara.
Tahun ini kita merayakan 75 tahun kehadiran Xaverian di Indonesia. Semoga perayaan ini menjadi perayaan pemecahan roti, perayaan yang membuka pintu memori sejarah bersama sebagai Xaverian, perayaan yang membawa semangat baru.
Puluhan misionaris hidupnya telah diambil dari Tanah airnya. Diberkati sebagai imam dan bruder Misionaris Xaverian. Dipecah-pecah dan diutus di tempat misi yang sulit mulai dari Simatalu dan Simalegi di Mentawai, Katedral, Pasar Usang, Batusangkar di Sumbar, terus di Palas dan Pulau Rupat di Riau.
Doa saya, semoga para pembaca renungan ini mengalami titik pemecahan roti dalam hidup saudari dan saudara, rekan muda dan adik-adik sekalian.
Amin.
Rm. Petrus, SX