HARI MINGGU PALMA
Bacaan I: Yehezkiel 37:12-14; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Bacaan II: Ef 5:8-14; Bac. Injil: Yohanes 9:1-41
Hari Minggu Palma
MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN
Siapakah DIA ini?
Hari Minggu ini sungguh istimewa. Hanya sekali dalam setahun kita mendengarkan dua bacaan Injil dalam satu Misa: satu di awal perayaan ketika kita menyambut Yesus yang masuk ke Yerusalem, dan satu lagi di tempat biasa, ketika kita mendengarkan kisah sengsara dan wafat-Nya. Dua kisah ini terasa bertolak belakang — yang satu penuh sorak dan daun palma, yang lain diiringi teriakan penolakan dan salib yang berat. Namun Injil Matius menyingkapkan bahwa keduanya sebenarnya terhubung.
Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, “seluruh kota gempar.” Ketika Ia wafat di salib, “bumi pun terguncang.” Dua “guncangan” ini bukan hanya menggambarkan kejadian luar biasa, melainkan mengguncang batin kita – mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: “Siapakah Dia ini?”
Pertanyaan itu akhirnya dijawab oleh sosok yang tak terduga. Seorang perwira Romawi – bukan murid, bukan orang Yahudi – menatap tubuh Yesus di salib dan berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah.” Di sana, di tengah penderitaan, kasih dan keilahian Yesus perlahan terungkap. Orang kafir yang mengakui-Nya di akhir Injil seakan menggemakan para majus di awal Injil Matius – dua kelompok yang sama-sama mengenali Allah yang hadir di antara manusia.
Pekan Suci ini mengajak kita untuk mendengarkan kembali kisah sengsara bukan sekadar sebagai kisah duka atau kejahatan manusia, tetapi sebagai kisah kasih Allah yang begitu nyata. Dialah Immanuel — “Allah beserta kita” — bukan hanya dalam kemuliaan dan kemenangan, tetapi juga dalam penderitaan dan kegelapan hidup. Justru di saat-saat itulah Yesus paling sungguh menunjukkan kasih Allah yang hadir, setia, dan tak tersingkir oleh kejahatan.
Di salib, kita menemukan kabar baik: kasih yang lebih kuat dari dosa, kehidupan yang lebih kuat dari maut. Seperti yang ditulis Rasul Paulus, “Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8). Itulah puncak cinta — kasih yang tidak menunggu balasan, kasih yang lebih dulu datang dan menyentuh hati kita yang rapuh.
P. L. Suharno, SX