MALAM PASKAH
MALAM PASKAH
MALAM TIRAKATAN KEBANGKITAN TUHAN
« Inilah pesta Paskah, hari Anak Domba Sejati dikurbankan dan pintu rumah umat beriman sudah ditandai dengan darah-Nya. Inilah malam waktu leluhur kami, Bani Israel, Kauhantar keluar dari Mesir melalui Laut Merah lewat jalan yang kering. Inilah malam Yesus Kristus mengalahkan kuasa maut dan bangkit sebagai pemenang yang unggul dari kubur-Nya. Pada malam ini semua orang yang percaya kepada Kristus Kaulepaskan dari kedurhakaan dan dosa, Kauanugerahi rahmat dan Kaupersatukan dalam Gerja yang kudus » (Madah Exsultet)
Dalam Madah Exsultet di atas terangkumlah apa yang menjadi inti dari perayaan Malam Paskah yang kita rayakan setiap tahunnya. Sebuah perayaan iman yang menyentuh hidup dan keberadaan suatu bangsa terpilih dulu (Israel) dan sekarang (Gereja). Suatu karya yang luar biasa dari Allah, karya penyelamatan. Manusia diselamatkan oleh Allah dengan, dalam dan melalui misteri Paskah : sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus-Kristus. Jelas bahwa Allah yang mewahyukan diri-Nya seperti ini dan kita yakini adalah Allah yang peduli, solider dengan manusia, penuh cinta dan kemurahan-hati. Allah yang diawal segalanya « melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik », Allah yang memberkati Abraham dan menjanjikan kepadanya segala berkat melalui anak keturunannya. Allah yang sama yang mendengarkan jeritan dan keluhan bangsa terpilih yang ada di bawah tekanan perbudakan di Mesir. Allah pencipta, pemberi dan penjamin kehidupan serta pembebas, itulah identitas dari Dia yang mewahyukan diri-Nya. Nabi Yesaya menyebut-Nya sebagai « Dia yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam nama-Nya ; yang menjadi Penebusmu ialah yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi » (Yes 54, 5).
Allah yang demikian dalam Perjanjian Baru diyakini hadir dalam Firman-Nya yang menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret. Satu lompatan besar dalam sejarah Allah bersama umat-Nya, bahwa Dia yang mengikat perjanjian abadi dengan umat Israel itu akhirnya menjadi manusia Yesus. Perjanjian Abadi itu akhirnya menjadi nyata dengan, dalam dan melalui Yesus dari Nazareth, Allah yang menjadi manusia. Kisah hidup dan karya-karya Yesus dari Nazaret menjadi pemenuhan janji-janji Allah dari semula. Puncaknya adalah ketika Ia ditangkap, diadili, dihukum dengan cara disalibkan, wafat dan dimakamkan. Semua peristiwa hidup si guru keliling dari Nazaret ini baru saja kita kenangkan kembali dalam Tri Hari Suci : Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Seperti Inkarnasi menjadi suatu lompatan besar dalam sejarah manusia bersama Allah, demikian juga hari Sabtu pagi sampai Matahari terbenam menjadi jurang besar (hiatus dalam bahasa Latin) yang menunjukkan kesunyian dan diamnya Yang Ilahi. Seakan-akan benar yang dikatakan Gamaliel « Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap » (Kis 5, 28). Yesus yang wafat disalib dan dimakamkan seakan-akan mau mengatakan bahwa memang benar apa yang Dia mulai dari Galilea sampai dengan Yerusalem hanyalah berasal dari manusia.
Ketika semua seakan-akan sudah selesai dan tidak ada kelanjutannya, ternyata Allah punya rencana lain dengan Yesus dari Nazaret ini. Seperti dikatakan oleh Injil Matius bab 28 ayat 1 : « setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar hari pertama minggu itu » sesuatu yang luar biasa dan tidak pernah ada sebelum-sebelumnya terjadi. Yesus dari Nazaret itu bangkit dari kubur. Allah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Peristiwa ini yang diabadikan dalam cerita/kisah di akhir setiap Injil baik Matius, Markus, Lukas maupun Yohanes. Ya, Yesus Kristus bangkit ! Kematian tak lagi mengurung-Nya di dalam kubur. Sesuatu yang baru terjadi. Dan, kebaruan ini dimulai dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Apa yang dikatakan oleh Seneca (4 M – 65 M) : « Post mortem nihil est ipsaque mors nihil, velocis spatii meta nouissima » (Setelah kematian tidak ada apa-apa bahkan kematian itu sendiri tidak ada apa-apa, ia adalah suatu batas akhir dari satu perjalanan yang cepat), tidaklah demikian halnya yang terjadi pada Yesus post mortem suam menurut kesaksian mereka yang percaya pada waktu kejadian, 2000 tahun yang lalu dan sampai sekarang.
Kebaruan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus lalu berarti apa ? Pertama tentu saja Allah adalah Tuan atas segalanya : hidup segala makhluk di dunia ini dan bahkan di seluruh semesta. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati menggarisbawahi kebenaran ini. Bagi kita orang percaya Tuhan Allah adalah segalanya. Dari Dia kita semua (manusia dan segala sesuatu) berasal dan hidup. Santo Fransiskus dari Assisi menyebutnya dengan istilah Deus meus et omnia. Santa Teresa dari Avilla mungkin akan mengatakan hal yang sama dengan istilah Solo Dios basta ! Atau Santo Agustinus akan mengatakan dengan lebih puitis seperti ini : « Betapa lambat aku akhirnya mencintai-Mu, Oh Keindahan lama yang selalu baru, betapa lambat Kau kucintai! Ketika Engkau berada di dalam diriku, aku malah berada di luar, dan di luar sanalah Kau kucari. Aku, yang tidak layak dicintai ini, melemparkan diri ke antara hal-hal indah yang Kau ciptakan. Dahulu Engkau bersamaku, namun aku sendiri malah tidak bersama-Mu. Segala hal itu membuatku terpisah daripada-Mu; yang jikalau tidak ada dalam diri-Mu, sesungguhnya semua itu bukanlah apa-apa ! » (Pengakuan St. Agustinus, X, 26).
Kedua, kebaruan yang dibawa oleh kebangkitan Yesus-Kristus mengundang kita untuk percaya dan siap bekerja sama dengan rahmat luar biasa yang selalu Allah karuniakan kepada seluruh ciptaan-Nya. Kebangkitan Yesus memungkinkan suatu kebaruan juga merasuki dan menginspirasi kehidupan kita yang mempercayai peristiwa tiada duanya ini. Kebaruan ini menjadi motif utama dari persekutuan mereka-mereka yang mau mempercayai warta gembira kebangkitan Yesus-Kristus dari antara orang mati. Kebaruan yang dibawa oleh peristiwa kebangkitan ini mengundang kita semua untuk mengusahakan pembaruan-pembaruan baik dalam hidup pribadi maupun bersama. Walter Kasper, teolog dan uskup emeritus Keuskupan Rottenburg-Stuttgart, menyatakan bahwa dengan kebangkitan Yesus-Kristus, janji pemenuhan eskatologis tentang kemanusiaan dan dunia yang baru menjadi nyata (Walter Kasper, Jésus le Christ, Paris : Cerf, 1976, 231-232). Kiranya kebaruan dan pembaruan ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam Kitab Suci kristiani. Awal mula sejarah keselamatan, dalam pewahyuan kristiani, bermula dari penciptaan awal seperti dikisahkan dalam Kitab Kejadian bab 1 dan bab 2. Sejarah keselamatan ini akhirnya berpuncak pada momen penciptaan kembali seperti yang dikatakan oleh Kitab Wahyu bab 21 ayat 5 : « Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru ! ». Dan di tengah kebaruan dan pembaruan itu, kebangkitan Yesus-Kristus menjadi titik pivot, kalau menggunakan istilah finansial, yang tak tergantikan. Dari peristiwa ini, semua berubah. Semoga !
FX. Sadono Agung Widodo, SX