HARI MINGGU BIASA II
Bacaan I: Yesaya 49:3,5-6; Bacaan II: 1 Kor 1:1-13; Bac. Injil: Yohanes 1:29-34
Hari Minggu Biasa II
Lihatlah Anak Domba Allah! Sebuah seruan yang harus kita dengarkan dan kita lakukan. Di dalam perayaan Ekaristi, melihat Anak Domba Allah dan kemudian menyantapnya menjadi bagian utama dalam iman kita. Kita tidak hanya melihat Dia, tetapi memasukkan-Nya di dalam hati kita.
Pada hari ini, Injil membawa kita kepada kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus. Dengan menggunakan sejarah dan simbol menjadi satu. Yohanes kembali membangkitkan ungkapan-ungkapan terkenal dalam perjanjian lama untuk mengungkapkan sesuatu tentang identitas Yesus;“Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Ini bukan sekadar seruan, melainkan inti iman Kristiani.
Sebutan “Anak Domba Allah” untuk membangkitkan kembali ingatan akan eksodus, pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pada malam Paskah pertama, darah Anak Domba Paskah, yang menandai palang pintu rumah, merupakan tanda pembebasan dan terluput dari kematian. Bagi kita orang kristiani, Yesus adalah Anak Domba Allah Paskah yang baru yang membebaskan umat-Nya.
Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah korban sejati dan definitif, bukan hanya untuk Israel, tetapi bagi dosa dunia. Keselamatan yang dibawa Yesus bersifat universal.
Injil tidak mengatakan Yesus “menutupi” dosa, tetapi “menghapus” dosa. Artinya, Yesus tidak sekadar memperbaiki permukaan hidup manusia, tetapi mengubah akar relasi manusia dengan Allah. Melalui Yesus, dosa tidak lagi memiliki kata terakhir. Keselamatan dalam Kristus bukan usaha manusia naik kepada Allah, tetapi karya Allah yang turun dan bertindak bagi manusia.
Yohanes bersaksi bahwa ia melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus dan tinggal di atas-Nya. Roh Kudus yang “tinggal” menandakan kehadiran Allah yang menetap dan berkelanjutan. Ini menegaskan bahwa Yesus bukan sekadar nabi, tetapi yang diurapi secara penuh oleh Allah.
Lebih jauh, Yohanes mengakui keterbatasannya sendiri: “Aku tidak mengenal Dia.” Ia mengenal Yesus bukan lewat relasi manusiawi, tetapi lewat pewahyuan Allah. Iman sejati selalu lahir dari perjumpaan, bukan hanya dari informasi.
Masa Biasa adalah masa untuk semakin mengenal Yesus yang telah datang kepada kita, yang berjalan bersama kita dan menyelamatkan kita. Dia adalah Mesias yang dijanjikan Allah, tidak salah lagi!
Peran Yohanes sangat jelas: ia bukan Mesias, bukan pusat, bukan tujuan. Ia hanya saksi. Puncak imannya adalah ketika ia berkata, “Dialah Anak Allah.” Di sini kita belajar bahwa iman kristiani sejati selalu mengarah keluar dari diri sendiri, menunjuk kepada Kristus.
Renungan ini mengajak kita bertanya: Apakah kita sungguh memandang Yesus sebagai Anak Domba yang menghapus dosa, atau hanya sebagai guru moral? Apakah hidup kita menjadi kesaksian yang menunjuk kepada Kristus, atau justru kepada diri sendiri?
Dalam setiap Ekaristi, kita mengulangi kata-kata Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Ini bukan rutinitas liturgi, tetapi pengakuan iman: bahwa hanya di dalam Kristus ada pengampunan, keselamatan, dan hidup baru.
Hari Minggu Biasa II mengajak kita kembali ke pusat iman kita: Yesus Kristus, Anak Domba Allah. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengenal Dia, tetapi untuk memberi kesaksian melalui hidup yang diubah oleh kasih dan pengampunan-Nya. Semoga kita, seperti Yohanes Pembaptis, berani berkata dengan hidup kita: “Dia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.”
Injil hari ini membantu kita untuk benar-benar menghayati iman dan percaya. Percaya artinya menyerahkan hidup seutuhnya kepada Allah. Jika kita percaya dan membiarkan hidup diubah oleh kasih Allah, maka kita juga akan mempu mengubah dunia. Selamat bermisi!