HARI MINGGU BIASA XXX
Bacaan I: Keluaran 22:21-27; Mazmur: 18:2-3a.3bc-4.47.51ab; Bacaan II: 1 Tesalonika 1:5c-10; Bacaan Injil: Matius 22:34-40
HARI MINGGU BIASA XXX
KASIH YANG MEMBELA KEHIDUPAN: PERTOBATAN MENUJU GEREJA YANG MISIONER
Kasih Kristus mendesak kami…
Pernahkah kita bertanya dalam hati: apakah kasih kita kepada Allah sungguh dirasakan oleh sesama? Yesus mengingatkan kita akan dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Keduanya tak terpisahkan. Kasih kita kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari keberanian kita membela martabat manusia, terutama mereka yang kehilangan harapan.
Allah mengingatkan umat-Nya agar tidak menindas orang asing, menyakiti anak yatim, atau memperberat beban kaum miskin. Allah mendengar jeritan mereka, artinya, Allah berada di pihak mereka. Allah mendengar suara mereka yang menderita, dan Ia menghendaki agar kita pun membuka telinga dan hati bagi mereka. Ini berarti, Allah tidak pernah netral terhadap penderitaan manusia. Ia berpihak pada kehidupan.
Pergumulan di negeri kita begitu banyak dan beragam. Pertanyaannya bukanlah negara ini mau dibawa kemana, melainkan siapa yang paling berperan menentukan arah masa depan kita? Kebakaran hutan dan lahan merusak alam, mengancam kesehatan dan merampas ruang hidup manusia dan mahluk hidup di dalamnya. Banyak keluarga berjuang sekadar untuk bertahan dengan menghadapi harga kebutuhan hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan ekonomi. Ada rakyat kecil yang merasa suaranya tak didengar, sementara kebijakan dan kekuasaan belum selalu menjawab kebutuhan mereka.
Ketika kebijakan dan praktik kekuasaan terasa jauh dari jeritan rakyat, kita menghadapi krisis bukan hanya ekonomi, melainkan juga nurani dan tanggung jawab moral. Mampukah kita melihat semua ini sebagai tanda-tanda zaman dalam terang Injil? Penderitaan sesama bukan sekadar berita yang kita baca, lalu kita lupakan. Ketimpangan sosial mengungkap rapuhnya solidaritas di antara kita.
Jeritan rakyat mengundang kita memeriksa nurani. Ketidakadilan menantang kita untuk tidak tinggal diam. Kita tidak dipanggil untuk saling menghakimi, melainkan untuk berani mengoreksi diri dan bersama-sama memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat.
Doa tanpa kepedulian menjadi doa yang palsu. Pewartaan tanpa keberanian membela martabat manusia kehilangan daya profetisnya. Kesalehan tanpa kepedulian akan menjadi tong kosong. Penderitaan rakyat menguji keberpihakan para pemimpin di pemerintahan, para pastor dalam Gereja beserta dengan seluruh jajaran dewan pastoral paroki dan seluruh umat. Gereja Katolik di Indonesia dipanggil bukan hanya mengajarkan kasih, melainkan menghadirkan kasih yang dapat dilihat dan dirasakan: kasih yang menyembuhkan, menguatkan, dan mengubah keadaan.
Pertobatan misioner ini perlu dimulai dari kita. Para pastor, religius dan misionaris dipanggil untuk hadir sebagai gembala yang dekat dengan umat, terutama mereka yang terluka dan tersisih, mendampingi keluarga rentan, kaum muda, serta korban bencana. Kita semua dipanggil merawat bumi, berbagi dengan yang berkekurangan, membangun solidaritas, dan menyuarakan kebenaran dengan berani, damai, serta bertanggung jawab.
Pertama, para pastor paroki hendaknya tidak membatasi diri sebagai pengelola sakramen dan administrasi, tetapi gembala yang hadir di tengah penderitaan, mendengarkan jeritan rakyat, dan menggerakkan paroki menjadi pusat solidaritas. Anda ditahbiskan untuk menjadi penerus berkat Tuhan dan berpihak pada Allah yang hadir dalam diri umat yang paling menjerit.
Kedua, para misionaris dan animator hendaknya tidak berhenti pada pewartaan kata-kata, tetapi berani juga berkarya mendampingi keluarga rentan, kaum muda, korban bencana, dan masyarakat yang terpinggirkan.
Ketiga, pada akhirnya kita semua umat Katolik diajak kembali untuk mewujudkan iman dalam karya nyata melalui pola hidup ekologis, solidaritas ekonomi, pendampingan sesama, serta keberanian menyuarakan kebenaran dan mengawasi kebijakan publik secara kritis, damai, dan bertanggung jawab.
Marilah kita membangun paroki-paroki yang bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga rumah pengharapan. Semoga Gereja kita menjadi tempat orang miskin didengarkan, yang terluka dikuatkan, dan yang tersisih menemukan persaudaraan. Kita harus berani mengambil sikap untuk selalu berpihak pada martabat manusia dan kehidupan. Gereja, Kita, Anda dan saya, tidak dipanggil menjadi partisan politik, tetapi menjadi suara profetis yang tidak dapat dibungkam oleh kepentingan. Desmond Mpilo Tutu, uskup Anglikan pernah menyatakan bahwa “Jika kamu bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, kamu telah memilih memihak sisi penindas. Jika kaki seekor gajah berada di atas ekor tikus dan kamu mengatakan bahwa kamu netral, tikus tersebut tidak akan menghargai netralitasmu”.
Saudara-saudari terkasih, Tuhan adalah gunung batu, benteng, dan penyelamat kita. Semoga kita pun menjadi tanda kasih dan pengharapan-Nya bagi sesama. Sebab, misi bukan pertama-tama tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa dekat kita hadir bagi mereka yang membutuhkan kasih.
Semoga kasih kepada Allah menjelma menjadi keberpihakan kepada kehidupan, sehingga melalui Gereja, semakin banyak orang mengalami bahwa Allah sungguh mendengar jeritan mereka. Amin.