HARI MINGGU PRAPASKAH III
Bacaan I: Kel 17:3-7; Mzm 95:1-2.6-7.8-9; R:8; Bacaan II: Roma 5:1-2.5-8; Bac. Injil: Yohanes 4:5-42
Hari Minggu Prapaskah III
YESUS SANG SUMBER AIR KEHIDUPAN
Yesus bersabda,”Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yoh 7:37). Sabda Yesus ini disampaikan berakhirnya Pesta Pondok Daun. Sebuah pesta kenangan sejarah keselamatan pada mukjizat air di mana Allah memberikan air dari dalam wadas kepada orang Yahudi dalam pengembaraan di gurun untuk melawan segala keraguan dan ketakutan mereka (lih. Bil. 20:1-3). Pesan Injil Yohanes bagi kita jelas bahwa air kehidupan itu ada dalam diri Tuhan Yesus. Dia yang mengalirkan air keselamatan, hidup kekal.
Muncul pertanyaan, bagaimana kita sampai ke sumber sejati? Yesus menjawab, “Yang percaya kepada-Ku dan melaksanakan perintah-perintah-KU!” Sabda Tuhan minggu ini, menuntun dan mengarahkan hidup kita pada sumber hidup sejati, ada dan bersama Kristus.
Harta paling luhur orang beriman adalah mempercayai Yesus sebagai sumber hidup yang berkelimpahan, mengalirkan hidup sejati. Sumber keselamatan-Nya ditawarkan bagi setiap orang yang percaya pada-Nya. Harapannya, tak seorang pun mengalami kekurangan dan kehausan dalam hidupnya. Orang selalu disegarkan bersama-Nya. Segar dan selalu baru. Air adalah lambang kehidupan, sumber hidup. Tanpa air, kering dan mati.
Bacaan pertama Kitab Keluaran, bangsa Israel mengeluh dan protes kepada Musa karena kehausan, tanpa air. Kata mereka, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak dan ternak kami kehausan?” Padang gurun itu tandus, sulit air. Panas dan kering. Apalagi saat musim kemarau, semuanya mengering. Dengan demikian salah satu kebutuhan pokoknya adalah air. Air menjadi kebutuhan vital.
Di tengah ketidakpercayaan dan kemarahan bangsa Israel, Musa berseru kepada Tuhan. Katanya, “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini?”. Tuhan menuntun Musa untuk melakukan apa yang diperintah padanya. “Pukullah gunung batu itu, dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum”. Musa pun melakukan apa perintah Tuhan. Dan orang Israel, anak-anak, dan semua binatang bawaanya bisa minum dan segar kembali.
Peristiwa padang gurun bagi umat Israel adalah gambaran kehidupan kita pula. Di tengah-tengah kesulitan, penderitaan, dan ketidakberdayaan hidup, orang cenderung menyalahkan lingkungan sekitarnya bahkan Tuhan sendiri. Pengalaman keterbatasan cenderung mengoda orang untuk menyalahkan di satu sisi, namun juga bisa menjadi langkah maju untuk berani menerima dan bersandar pada campur tangan Allah. Mengutip Kardinal Henri de Lubac, katanya: “Saya tak pernah menemukan dalam Kitab Suci pengertian iman yang melulu intelektualistik, melainkan iman sebagai gerak sukarela dan total dari manusia kepada Allah, sebuah sikap yang terwujud dalam kesiapan untuk menghadapi segala cobaan hidup.”
Musa menuntun umat Israel juga tak lepas dari tantangan-tantangan konkret bersama mereka. Di tengah keterbatasannya, Musa mengandalkan Yahwe. Kita boleh belajar dari peristiwa ini. Peristiwa padang gurun adalah pengalaman membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita yang rapuh ini. Dengan-Nya, iman dan kepercayaan kita pada Tuhan sang pemberi air kehidupan dimurnikan dan ditumbuhkembangkan. Itu pula yang ditegaskan dalam bacaan kedua oleh Rasul Paulus: “Kita yang dibenarkan oleh iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”.
Injil hari pun mempercakapkan tentang air. Air sumber kehidupan, pelepas dahaga. Rasa letih dan haus dialami oleh Yesus, mendorong-Nya untuk meminta air kepada kepada perempuan Samaria yang akan menimba air. “Berilah Aku minum,” kata Yesus. Tapi perempuna itu menjawab, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria”.
Yesus berjumpa dengan perempuan yang hidupnya hancur dan Ia ingin memberi hidup yang baru. Yesus datang kepada perempuan itu sebagai pengemis yang letih, haus, dan minta tolong agar perempuan itu melakukan sesuatu bagi diri-Nya. Ia mulai berdialog dengan perempuan itu dan menciptakan relasi dengannya. Dengan mempercayai perempuan itu, Yesus mengangkat dia dan mengembalikan kepercayaan dan harga dirinya.
Obralan di sumur menjadi perjumpaan iman, juga perjumpaan kasih. Sesudah diperbarui lewat percakapan dengan Yesus, ia memberikan hidupnya kepada orang lain. “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. ……Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?……Dia benar-benar Juruselamat dunia”. Hidupnya diubah dan ia pun menjadi rasul untuk orang di sekitarnya.
Sikap perempuan Samaria yang terbuka itu memungkinkan terjadi relasi, percakapan hangat dengan Yesus. Kita tahu bahwa hidup dan tumbuhnya iman seseorang juga tak lepas dari sikap relasi, ketersambungan hidup kita dengan Tuhan Yesus. Relasi itu mesti diperbarui. Bahkan dalam kehancuran dan ketidakberdayaan, relasi personal dengan Tuhan tetap menjadi dasar kehidupan kita. Di sini kita boleh belajar dari perempuan Samaria. Keterbukaan, ketulusan, dan kejujurannya di hadapan Tuhan. Pesannya bagi kita?
Kekeringan dan kehausan hidup dengan segala luka dan kehancuran seakan menjadi pisau bermata dua. Orang digoda meninggalkan Tuhan, atau sebaliknya orang sadar dan menyadarkan keterbatasan itu pada kekuatan Ilahi. Semoga kita siap menghadapi setiap kesulitan hidup kita bersama Tuhan Yesus. Mari kita menimba sumber hidup sejati dalam Tuhan Yesus, Sang Sumber Hidup Abadi.
P. Sutyo, SX