HARI MINGGU PRAPASKAH V
Bacaan I: Yehezkiel 37:12-14; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Bacaan II: Ef 5:8-14; Bac. Injil: Yohanes 9:1-41
Hari Minggu Prapaskah V
Allah yang membangkitkan kehidupan dari kematian, harapan dari keputusasaan
Memasuki Minggu Pra-Paskah yang kelima, bacaan-bacaan yang kita dengar menuntun kita pada tema besar: Allah yang membangkitkan kehidupan dari kematian, harapan dari keputusasaan. Tema ini sangat relevan, bukan hanya menjelang Paskah, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nabi Yehezkiel berbicara kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan. Mereka merasa hancur, kehilangan tanah air, kehilangan identitas, seolah-olah hidup mereka sudah berakhir. Dalam gambaran nubuat, mereka seperti tulang-tulang kering yang berserakan. Tetapi Allah berjanji: “Aku akan membuka kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya.”
Pesan ini jelas: tidak ada situasi yang terlalu gelap bagi Allah untuk menyalakan terang-Nya. Bahkan ketika kita merasa hidup kita seperti kubur, Allah sanggup memberi napas baru. Kubur bukanlah kata terakhir; Allah selalu punya kata terakhir: kehidupan.
Dalam bacaan kedua Rasul Paulus menegaskan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga tinggal dalam diri kita. Artinya, hidup kita bukan lagi dikuasai oleh dosa dan maut, melainkan oleh Roh yang memberi hidup.
Iman bukan sekadar aturan moral, tetapi kuasa hidup baru. Roh Kudus bekerja dalam kelemahan kita, mengubah hati yang keras menjadi lembut, mengubah ketakutan menjadi keberanian. Paulus ingin kita sadar: kebangkitan bukan hanya peristiwa masa depan, tetapi kuasa yang sudah bekerja sekarang.
Injil hari ini adalah kisah yang sangat dramatis: Lazarus, sahabat Yesus, mati dan sudah empat hari di dalam kubur. Marta dan Maria penuh kesedihan. Mereka berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Yesus menjawab dengan penuh kuasa: “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Dan Yesus benar-benar memanggil Lazarus keluar dari kubur. Kubur yang tertutup terbuka, orang mati hidup kembali.
Perhatikan: Yesus tidak hanya menunda kematian, tetapi menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas kematian itu sendiri. Kubur bukanlah akhir.
Kisah Lazarus bukan hanya tentang mukjizat masa lalu, tetapi tentang hidup kita sekarang. Ada banyak “kubur” dalam hidup kita: kubur ketakutan, kubur kebiasaan buruk, kubur luka batin, kubur relasi yang mati. Tetapi Yesus berdiri di depan kubur itu dan berseru: “Keluarlah!”
Pertanyaannya: apakah kita berani membuka pintu kubur kita dan membiarkan Yesus membangkitkan kita?
Bayangkan seorang yang kehilangan pekerjaan, merasa tidak berguna, dan hidupnya seakan berhenti. Tetapi ketika ia berani membuka diri, belajar hal baru, dan percaya bahwa Tuhan masih punya rencana, ia menemukan hidup yang baru. Atau seorang keluarga yang retak karena konflik, tetapi ketika mereka berani memaafkan dan membiarkan kasih Kristus masuk, relasi yang mati bisa hidup kembali.
Kubur bukan hanya tanah dan batu, tetapi segala hal yang membuat kita terpenjara. Yesus datang untuk membebaskan kita dari kubur itu.
Aplikasi praktis
Dalam keluarga: mari kita hidupkan kembali kasih yang mungkin sudah dingin Dalam masyarakat: mari kita menjadi saksi harapan di tengah dunia yang penuh pesimisme Dalam diri sendiri: mari kita izinkan Roh Kudus mengubah kelemahan kita menjadi kekuatan.
Pra-Paskah adalah waktu untuk membuka kubur kita: kubur dosa, kubur kebiasaan buruk, kubur ketidakpedulian. Mari kita biarkan Yesus memanggil kita keluar. Minggu Pra-Paskah kelima ini mengajak kita menatap ke depan: sebentar lagi kita memasuki Pekan Suci. Kisah Lazarus adalah tanda bahwa salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.
Mari kita percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Mari kita biarkan Dia membuka kubur kita, memberi kita napas baru, dan menuntun kita menuju hidup yang kekal.
P. Gerpasius, SX