JUMAT AGUNG
Bacaan I: Yesaya 52:13-53:12; Mzm 31:2.6.12-13.15-16.17.25; Bacaan II: Ibrani 4:14-16;5:7-9; Bac. Injil: Yohanes 18:1-19:42
JUMAT AGUNG
MEMPERINGATI SENGSARA DAN WAFAT TUHAN
SALIB
«Sebuah penegasan terakhir tentang keilahian-Nya. … Ia wafat sebagai Tuhan»
Ketika pertama kali mengunjungi dan masuk ke dalam Basilika St. Petrus di Roma, ada begitu banyak object mengagumkan mulai dari altar, lukisan, patung pieta, yang membuat saya beta berlama-lama di dalam basilica. Namun dari sekian banyak object ini, saya terkesan dengan salah satu kapel di mana bergantung Salib Yesus yang menurut saya sangat sederhana dan penerangan agak redup dikombinasikan dengan warna hitam; pemandangan kontras dengan suasana Basilika yang dipenuhi warna dan cahaya. Konfrater yang mengantar saya mengunjungi Basilika spontan berbisik lirih ke saya: “kalo mau merefleksikan soal kematian kamu masuk ke kapel ini dan berlutut di depan salib Yesus”. Saya menyempatkan diri masuk dan berlutut, jujur spontan muncul rasa takut dalam diri saya. Salib Yesus identic dengan ketidak berdayaan, kegetiran, kegagalan, dan kuasa kegelapan yang mengambil alih.
Pengalaman ini kiranya membawa saya pada permenungan makna Salib Yesus atau tepatnya kisah sengsara Yesus yang kita rayakan setiap tahun dalam perayaan hari JUMAT AGUNG.
Salib Yesus memberikan makna baru bagi perjumpaan kita dengan kematian.
Marilah kita merenungkan penderitaan ilahi, kisah sengsara Yesus: “saat Ia berangkat menuju tempat pengorbanan-Nya. Mata semua orang tertuju kepada-Nya. Ia berjalan perlahan di bawah beban Salib dan Ia sangat pucat, kelelahan, dan patah hati. Ia berjalan di antara kerumunan yang mengejek-Nya, menghina-Nya, dan menghujat-Nya; berlumuran keringat dan darah, Ia berjalan di sepanjang jalan penderitaan itu. Namun demikian, Yesus menunjukkan ketenangan ilahi di tengah penderitaan-Nya yang menyiksa. Ia memiliki ketenangan yang keras dan supranatural; di sekitar dahi-Nya yang berlumuran darah terdapat lingkaran cahaya yang bukan bersifat duniawi, dan dari pribadi-Nya terpancar nafas kedaulatan yang tak terkatakan, aura mulia kemuliaan yang tak tercela, pancaran keagungan ilahi.”
Apa yang menjadi signifikansi Narasi Sengsara Yesus dalam injil Yohanes bagi refleksi kita mengenai pengalaman penderitaan dan kematian. Pertama-tama, kisah Sengsara Yohanes menegaskan apa yang menjadi keyakinan dasar dari seluruh Perjanjian Baru: bahwa kematian dan kebangkitan Yesus telah merampas sengat kematian. Hidup kekal, bukan kematian, yang memegang kata terakhir. Kematian bagi Yesus menjadi saat “kemuliaan” karena itu adalah momen di mana misi-Nya selesai dan Ia kembali kepada Bapa-Nya. Secara tersirat, teologi Yohanes melihat masa depan semua orang percaya di dalam garis tangan Yesus. Hubungan itu dinyatakan dalam wasiat terakhir Yesus. Yesus adalah pendahulu bagi umat Kristiani: “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak kamu akan mengikuti Aku” (13:36). Ikatan yang terjalin antara Yesus dan murid-murid-Nya, antara pokok anggur dan ranting-rantingnya, tidak dapat diputuskan oleh kematian.
Kematian digambarkan sebagai moment kepulangan, reuni, dan istirahat terakhir ini melenyapkan kengerian kematian dan menjelaskan mengapa Yohanes menyajikan Kisah Sengsara Yesus—yang begitu mengerikan dalam realitas lahiriahnya—sebagai sebuah kisah kemenangan di mana Yesus bertindak dengan ketenangan dan kepercayaan diri. Iman memungkinkan umat Kristiani untuk melihat kematian bukan sebagai pengakhiran hidup, atau bahkan sebagai pintu masuk menuju keterasingan, tetapi sebagai kepulangan ke rumah Allah bersama dengan Kristus yang Bangkit.
Cara kematian Yesus yang digambarkan dalam kisah Sengsara Yohanes tidak hanya mengungkapkan rasa damai dan penyelesaian—”Sudah selesai” (19:30)—yang menyatakan kembalinya Ia kepada Allah, tetapi juga kepercayaan diri dan rasa tujuan yang bertepatan dengan suasana kemartiran. Yesus menghadapi para penangkap-Nya tanpa ragu-ragu dan, sesungguhnya, memegang kendali atas situasi tersebut meskipun Ia adalah tawanan. Ia menghadapi para interogator dan memikul salib-Nya sendiri. Tidak ada keluh kesah, tidak ada petunjuk tentang penderitaan yang sia-sia. Ia menyelesaikan pekerjaan-Nya dan wafat—memuaskan rasa haus-Nya akan kehendak Allah dengan bebas menerima kematian-Nya. “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Aku terima dari Bapa-Ku” (10:17-18). Sebagai Anak Allah yang Menjelma, Yesus tidak tunduk pada agen-agen sejarah. Ia dengan bebas menyerahkan nyawa-Nya dan dengan bebas mengambilnya kembali dalam melaksanakan misi yang dipercayakan kepada-Nya oleh Bapa-Nya.
Salib sebagai Pengungkap Kehidupan Batin Allah
Ada sebuah kalimat yang sangat menyentuh dalam kisah kematian Yesus yang mengatakan bahwa, ketika Ia wafat, “tirai di tempat kudus terkoyak dari atas sampai bawah.”
Namun kalimat itu tidak merujuk pada tanda gelap dan menakutkan pada saat penyaliban, yang dimaksudkan untuk mengejutkan dunia dan membuktikan bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar. Itu merujuk pada sesuatu yang lain, sama sekali tidak gelap dan penuh malapetaka. Tirai tempat kudus adalah tirai yang menggantung di antara orang-orang biasa dan tempat mahakudus—tempat paling suci dari semua tempat—dan mencegah mereka melihat apa yang ada di baliknya. Apa yang dikatakan para penulis Injil adalah bahwa, pada saat kematian Yesus, tabir yang memisahkan kita dari kehidupan batin Allah terkoyak sehingga kita sekarang dapat melihat seperti apa rupa Allah di dalam. Oleh karena itu, salib adalah ikon utama, penggambaran sejati dari Yang Kudus. Salib menunjukkan kepada kita hati Allah, kehidupan batin Tritunggal.
Secara lahiriah, tentu saja, kita melihat Yesus, Sang Putra. Apa yang sedang Dia lakukan? Dia menderita dan sekarat, tetapi dengan cara yang khusus. Ia tergantung di kayu salib dalam penderitaan, sekarat, sendirian, terhina, disalahpahami, tetapi Ia juga tergantung di sana dengan kepercayaan dan kesetiaan, menyerahkan hidup-Nya tanpa kebencian, tuduhan, dan pertanyaan pahit karena Ia mengenal dan mempercayai seseorang dengan cukup dalam untuk, secara harfiah, percaya pada matahari bahkan ketika tidak bersinar, pada kasih bahkan ketika tidak menunjukkan dirinya, dan pada Tuhan bahkan ketika Tuhan diam.
Kita melihat Yesus di kayu salib, tetapi kita melihat Ia di sana berpegangan pada orang lain dengan kepercayaan yang mengubah kebencian menjadi kasih, kutukan menjadi berkat, kepahitan menjadi kebaikan, tuduhan menjadi pengertian, dan keheningan Tuhan menjadi iman. Di kayu salib, kita melihat satu orang, tetapi sebagai orang yang dipegang dan diberdayakan oleh orang lain.
Di dalam diri Allah, seperti yang dapat kita lihat dari salib, tidak ada kepahitan, pembalasan dendam, kehilangan kesabaran, atau kurangnya kasih karunia (tidak ada jejak sedikit pun). Ketika tirai di dalam bait suci robek, ketika lambung Yesus tertusuk, apa yang kita lihat, apa yang mengalir keluar, hanyalah pengampunan, kesabaran, kelembutan, pengertian, dan undangan yang hangat.
Salib adalah Ikon Cinta Kasih Sejati
Salib mendefinisikan Tuhan sebagai kasih dan memberi kita gambaran seperti apa kasih semacam itu.
«Salib adalah kitab agung yang membentuk para Orang Suci dan itu harus sama bagi kita juga. Semua ajaran yang terkandung dalam Injil Suci dirangkum dalam Salib. Ia berbicara kepada kita dengan kefasihan yang tak tertandingi; dengan kefasihan darah.» Hal itu menanamkan dalam diri kita kerendahan hati, kesucian, kelembutan hati, pelepasan dari segala hal duniawi, keseragaman dengan kehendak ilahi dan, di atas segalanya, kasih kepada Tuhan dan sesama. Melalui penyaliban-Nya, Yesus telah mendamaikan umat manusia dengan Tuhan dan menyatukan dengan satu ikatan kasih semua anak Adam yang tercerai-berai. (St. Guido M. Conforti)
Sebagaimana sebelumnya Ia telah membasuh kaki kita dalam perjamuan malam terakhir, (Kamis Putih). Pada Jumat Agung, Ia membasuh kita lagi, tetapi kali ini dalam aliran darah-Nya sendiri yang rendah hati. Tugas kita sebagai pemuja “kayu salib” adalah untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, untuk mengubah kematian menjadi kebangkitan.
Marilah kita mengikuti Yesus dalam perjalanan yang menyakitkan ke Kalvari dan kita akan menyaksikan penderitaan, kesakitan, dan kesengsaraan-Nya….
P. Marsel, SX