Malam Natal
Hari Raya Malam Natal
Peristiwa kelahiran Yesus menjadi manusia adalah Kabar Gembira bagi umat manusia yang menantikan karya penyelamaan Allah secara utuh. Apa yang dinubuatkan oleh para nabi telah menjadi nyata dalam diri Yesus Almasih. Natal diperingati sebagai peristiwa yang agung yaitu ketika Allah yang Maha Mulia dan Maha Kuasa berkenan menjelma menjadi manusia agar manusia dapat dibawa-Nya kepada Allah. Syukur adalah satu-satunya perasaan kita yang pantas dan wajar karena Allah sungguh telah memberi anugerah keselamatan.
01
Saudari-saudara terkasih, pada Malam Natal Tahun A, Bacaan Injil Matius 1:18-25 mengisahkan kelahiran Yesus dengan focus pada kebenaran bahwa Ia adalah Anak Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Kisah ini tidak hanya memberitakan peristiwa sejarah, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang karakter Allah yang menyertai umat-Nya dalam kesusahan.
Nama “Yesus” berarti “Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”. Kelahiran-Nya bukan hanya untuk satu suku atau bangsa, tetapi untuk seluruh umat manusia di dunia, termasuk kita di Indonesia.
Demikian pula, di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Jakarta dan tantangan yang kita hadapi setiap hari, kelahiran Yesus mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian. Ketika kita merasa lemah, terbebani atau bingung, ingatlah bahwa Tuhan datang dalam kemurahan hati untuk menyertai kita.
Maria dan Yusuf menghadapi kesulitan—tidak ada tempat untuk tinggal, kelahiran yang tidak mudah, dan ancaman bahaya sesudahnya. Namun, mereka tetap setia dan mempercayai rencana Allah. Begitu juga dengan kita; meskipun jalan hidup tidak selalu mulus, kehadiran Yesus memberikan kekuatan untuk terus melangkah dan berbagi kasih kepada orang lain.
Natal dan gerakan eco-pastoral
Natal bukan hanya tentang pesta dan hadiah, tetapi tentang menerima kehadiran Yesus dalam hati kita dan menyebarkan kasih-Nya kepada sekitar kita—mulai dari keluarga, tetangga, hingga mereka yang membutuhkan keutuhan alam dan lingkungan hidup kita.
Saudari-saudara tercinta, pada Malam Natal ini kita juga diingatkan kembali bahwa Yesus Kristus datang ke dunia dengan mengambil daging yang lemah dari alam ciptaan—dibesarkan di kandang binatang, dengan bumi sebagai tempat lahirnya dan hewan-hewan sebagai saksi kelahiran-Nya (Mat 1:23). Ini bukan sekedar detail cerita, melainkan tanda bahwa keselamatan yang dibawa Yesus meliputi seluruh ciptaan Tuhan.
Seperti yang ditegaskan dalam Laudato Si dan surat pastoral para uskup se-Asia (FABC) tentang pemeliharaan ciptaan (2025), Allah tidak hanya menyelamatkan manusia secara terpisah, tetapi juga memulihkan hubungan yang rusak antara manusia dengan alam dan antar-manusia sendiri. Kelahiran Yesus menjadi dasar bagi ekologi integral (ECP-Pastoral)—pandangan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari Kesehatan planet kita.
Tema “Keutuhan Alam Ciptaan Tuhan” pada tahun 2026 adalah kelanjutan dari perjalanan pastoral Keuskupan Agung Jakarta selama lima tahun (ARDAS KAJ 2022-2026), yang sebelumnya telah membahas penghormatan martabat manusia (2022), kesejahteraan bersama (2023), solidaritas (2024), dan kepedulian pada yang lemah (2025).
Dalam konteks Indonesia ini tema ini sangat actual dan dan relevan tatkala saudara-saudari kita di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sekitar pekan keempat November lalu terkena musibah banjir dan tanah longsor. Karena keserakahan segelintir investor dan oknum pejabat korup yang mengeksploitasi sumber daya alam dengan penggundulan hutan, hingga pada akhirnya terjadi bencana alam banjir bandang.
Dalam konteks Jakarta dan wilayahnya (Banten, Jawa Barat), tema ini tentu sangat relevan pula mengingat tantangan ekologis yang dihadapi: polusi udara dan air, sampah yang tidak terkelola, serta hilangnya ruang hijau. Melalui ECP-Pastoral, Gereja mengajak umat untuk melihat bahwa merawat alam ciptaan adalah bagian integral dari pelayanan pastoral—termasuk memperhatikan kelompok yang paling terpengaruh oleh kerusakan lingkungan, seperti masyarakat miskin di daerah pesisir atau pemukiman kumuh.
Saudari-saudara yang dikahisihi Kristus, “kandang binatang” sebagai symbol persatuan, di mana Yesus lahir, mengingatkan kita bahwa semua ciptaan Tuhan adalah satu-kesatuan. Di Jakarta yang sibuk, ini berarti kita dapat berperan dalam menjaga keutuhan ciptaan melalui tindakan sederhana; mengumpulkan semua tutup botol plastic untuk kreasi artistic membuat lukisan mosaik-mural (yang sudah saya mulai sejak pindah tugas di Jakarta sekitar akhir Februari 2024); mengurangi penggunaan bahan plastic sekali pakai, merawat taman lingkungan biara/wisma/sekolah dan lainnya atau mendukung program pengelolaan sampah di paroki-paroki yang dilayani konfrater Xaverian, misalnya.
Dengan nama “Yesus”, yang mengandung arti “Penyelamat”, juga bermakna bahwa Ia menyelamatkan alam ciptaan dari penderitaan akibat dosa dan eksploitasi manusia (Rom 8:22). Sebagai umat Katolik di KAJ, kita dipanggil untuk mengubah pola pikir dari “menguasai alam” menjadi “merawat rumah kita bersama”.
Akhir kata, marilah kita merayakan Natal dengan memahami bahwa kelahiran Yesus mengajak kita untuk;
– Bertobat ekologis; dengan meninjau kembali gaya hidup kita dan memilih cara yang lebih ramah lingkungan.
– Bekerja sama di tingkat paroki; dengan membangun wadah untuk kegiatan seperti penanaman pohon, edukasi pengelolaan sampah, atau advokasi untuk kebijakan lingkungan yang adil.
– Menghubungkan iman dengan tindakan; yakni seperti Maria dan Yusuf yang menerima firman Allah dengan penuh tanggungjawab, kita pun diundang untuk menjadi pelindung alam ciptaan bagi generasi mendatang.
Semoga kehadiran Yesus di malam Natal ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk menjaga keutuhan alam ciptaan Tuhan—sebagai bukti kasih kita kepada Allah dan sesama manusia. “Semua ciptaan telah bersukacita karena telah datang Anak Manusia yang akan memuliakan mereka dan membawa mereka kembali kepada Bapa yang telah menciptakan mereka.” (Inspirasi dari Kol 1:16). rp. Antonius W.SX