HARI RAYA NATAL
MERASAKAN KEHADIRANNYA YANG MENYELAMATKAN
Saat mendengar kata “Natal”, setiap insan Kristiani kemungkinan memiliki kesan dan respon yang berbeda, bergantung dengan pengalaman masa lalu yang dialami atau peristiwa yang terjadi di saat natal. Secara pribadi, natal di tahun 2025 ini meramu pengalaman natal yang saya alami di tanah air, Negeri Tirai Bambu, Negeri Paman Sam maupun Negeri Formosa. Ramuan pengalaman yang memiliki benang merah yang hampir sama, khususnya di saat Perayaan Ekaristi Malam Natal.
Dalam Perayaan Malam Natal, para petugas liturgi memasuki gereja, kapel atau gedung perayaan dengan perarakan yang hikmat. Di tengah perarakan petugas itu, selalu ada fenomena menarik, di mana hadir pasangan keluarga, yang membawa patung bayi Yesus. Sering kali, patung itu dibawa dengan begitu hikmat, seperti layaknya seorang bayi yang dikasihi oleh pasutri tersebut. Sesampai perarakan di depan gereja, dilanjutkan dengan prosesi sederhana berarak ke kandang natal yang sudah dipersiapkan, lalu patung bayi Yesus diletakkan di palungan mungil yang sudah disiapkan. Seluruh umat yang hadir dan para petugas liturgi diajak untuk hening, berlutut atau memberikan gesture hormat menyembah. Setelah itu, kandang dan khususnya patung bayi Yesus tersebut didupai dan selanjutnya Perayaan Ekaristi meriah Malam Natal dimulai.
Sebuah ritual kecil sederhana namun menggugah perhatian akan dalam dan pentingnya Perayaan Misa Malam Natal tersebut. Sikap hormat dan hikmat terhadap patung bayi Yesus tersebut, mengajak kita untuk masuk dalam sikap syukur bahwa Misteri Inkarnasi terwujud dua ribu lebih tahun yang lalu di Betlehem. Sang Emanuel lahir dan diletakkan di dalam palungan tidak bersih dan tidak layak, namun menawarkan perlindungan dan kehangatan di tengah sengatan udara dingin yang mengancam di luar kandang.
Seperti halnya kandang dan palungan yang tidak bersih dan tidak layak, namun toh dipakai Tuhan untuk tinggal sesaat dan beroleh perlidungan dan kehangatan, demikian juga halnya dengan hati dan hidup kita yang sering kali kotor dan dipenuhi ketidakpantasan namun juga akan dihadiri Tuhan saat kita memberi tempat bagi kehadiran-NYA. Pesta Natal mengingatkan kita bahwa Allah selalu rindu hadir dan tinggal dalam hati dan hidup kita. Sang Emanuel, selalu rindu untuk berada di tengah-tengah kita, hadir dan tinggal dalam hidup harian kita.
Pesan Natal KWI-PGI 2025 ini yang relatif singkat menawarkan ajakan untuk merenungkan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Allah rindu untuk hadir di tengah keluarga kita yang saat ini sedang penuh dengan tantangan dan persoalan hidup harian. Allah ingin hadir dan ambil bagian dalam pergulatan hidup harian kita, sehingga kita yang sedang berada dalam sitasi yang tidak baik-baik saja ini, diteguhkan oleh kehadiran-NYA dan merasakan penyertaan-NYA dalam kehidupan harian kita untuk menyelesaikan persoalan hidup yang menantang kita setiap hari.
Semoga Natal 2025 ini, yang berada di penghujung Tahun Yubileum Pengharapan, mengingatkan kita untuk terus berharap walau terkadang kita tidak memiliki harapan untuk berharap. Kita terus menjadi peziarah pengharapan yang menyadari penyertaan Sang Emanuel dalam hidup harian kita. Meski banyak tantangan dan kesulitan serta kesadaran akan ketidakpantasan kita menyambut kehadiran Tuhan dalam hidup dan keluarga kita, setidak-tidaknya kita menyiapkan hati dan hidup kita bagi kehadiran-NYA. Kesadaran akan kehadiran-NYA di tengah kita, menjadi peneguh untuk terus memiliki pengharapan dan hidup sebagai pribadi-pribadi di tengah Keluarga Kristiani yang terus berjuang menyelamatkan keutuhan dan kesatuan keluarga kita agar dapat menjadi teladan bagi sesama di sekitar kita.
Selamat Natal dan Selamat Menyambut Tahun yang Baru dengan Pengharapan yang teguh.
(RP. Dharmawan,SX)