HARI MINGGU PRAPASKAH II

Bacaan I: Kej 12:1-4a; Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Bacaan II: 2 Tim 1:8b-10; Bac. Injil: Mat 17:1-9

Hari Minggu Prapaskah II

IMAN DAN PERUTUSAN HIDUP

Melalui wafat dan sengsara-Nya, Yesus menampakkan kemuliaan untuk menyelamatkan manusia. Allah bersabda “Dengarkanlah Dia”

Surat Apostolik Paus Benediktus XVI Porta Fidei (Pintu kepada Iman) No. 10 dikatakan demikian: “Tindakan pertama yang membawa seseorang kepada iman adalah anugerah Allah dan tindakan rahmat yang bekerja dan mengubah seseorang dari dalam. “Pengakuan dengan bibir” itu pada gilirannya menunjukkan bahwa “beriman” itu mengandung juga pengertian “kesaksian secara publik” serta sebuah komitmen. Seorang kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman itu adalah urusan pribadi saja. Beriman berarti memilih untuk memihak kepada Allah dan dengan demikian berada dalam Dia juga”.

Hari Minggu Prapaskah kedua, kita mau belajar dari tokoh Bapa Kaum Beriman, Abraham. Pada Abraham kita menemukan sikap imannya: terbuka, komitmen, dan kesiapan menjalankan kehendak Tuhan. Dalam bacaan Injil pun, bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, kita semakin diarahkan apa artinya orang beriman yang memiliki sikap kagum dan terpesona. “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini”. Namun kita tahu bahwa iman menuntut ditanggapi: “Berdirilah, jangan takut!”

Kisah panggilan Abraham  membantu kita dalam usaha mengembangkan diri agar memiliki iman yang kuat, berakar. Abraham diperkenalkan kepada kita dalam panggilannya yang langsung dari Tuhan. Allah menjanjikan kepada Abraham aneka berkat melimpah. Yaitu, menjadikan dia dan keturunan sebagai bangsa yang besar, namanya menjadi masyhur, dan dia menjadi penyalur berkat bagi bangsa dan keturunannya. 

Kita tahu bahwa janji Tuhan menjadi nyata pada Abraham yang menuntut dirinya menjawab panggilan-Nya dan jalan-Nya. Isi panggilan Tuhan menuntut banyak dari diri Abraham. “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu,” (Kej 12: 1). Tanpa ragu Abraham menjalankan perintah Tuhan. “Maka berangkatlah Abram sesuai dengan Sabda Tuhan,” (Kej 12: 4).

Abraham menanggapi panggilan Tuhan dengan keyakinan Tuhan akan menepati janji-Nya. Abraham taat dan menyerah seluruh hidupnya pada-Nya. Keyakinan, ketaatan, dan penyerahan diri adalah dinamika orang beriman. Abraham hidup dalam dinamika itu. Kata Santo Paulus bagi kita, “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham,” (Gal 3:7).

Sikap Abraham menanggapi panggilan Tuhan dan kesetiaannya pada Tuhan menjadi inspirasi bagi pertumbuhan iman kita. Kita semakin diteguhkan bahwa panggilan itu selalu berasal dari Tuhan. Tuhan sebagai sumber dan prakarsanya. Tuhan yang memanggil dan orang beriman menjawabnya. Keterbukaan terhadap panggilan Tuhan dan jawaban penuh percaya kepada-Nya adalah inti iman. Sebab iman hanya mungkin selagi kita bersedia mendengarkan serta menjawab dengan tulus.

Kita belajar dari keyakinan Abraham bahwa ketaatannya kepada Tuhan itu berbuah kehidupan. Jawaban Abraham pada panggilan Tuhan mengangkat dia menjadi Bapa banyak bangsa.  “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar; aku memberkati engkau”. Iman selalu berdimensikan pengharapan. Dan pengharapan itu buahnya sukacita kehidupan karena Tuhan selalu setia pada janji-Nya. Tuhan mengajak hidup kita bertumbuh dan berkembang. Tidak boleh ragu dan takut mendengarkan suara dan kehendak Tuhan.

Kata “berangkatlah sesuai sabda Tuhan” yang dihidupi Abaraham menunjukkan sikap tegas dan jelasnya Abraham menjalankan kehendak Tuhan. Panggilan Tuhan ditanggapi secara total, tidak setengah-tengah. Ini pun unsur iman. Iman menuntut tanggapan dari kita yang total. Dengan kata lain, Tuhan selalu menghendaki agar kita berani meninggalkan kenyamanan pribadi. Sebab, sikap iman tidak hanya berhenti pada rasa aman secara pribadi.

Injil hari ini, peristiwa Transfigurasi -peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung dengan perubahan rupa- juga memiliki unsur iman. Reaksi spontan Petrus adalah awal iman itu sendiri. “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini,” kata Petrus. Pengalaman kekaguman dan keterpesonaan adalah pintu masuk menyadari keangungan Sang Ilahi. Dari kekaguman dan keperpesonaan itulah, manusia menanggapi dan mendekati Tuhan. Kata teolog Rudolf Otto (Ahli sejarah religiusitas dan teolog Protestan) situasi mysterium tremendum et fascinosum -mengalami kegentaran sekaligus keterpesonaan yang misterius- adalah gambaran iman personal  perjumpaan dengan Sang Ilahi. Iman tumbuh dan berkembang tak lepas relasi dekat dengan Sang Ilahi itu sendiri.   

Akhirnya, kita bertanya, apa bukti bahwa iman kita berkembang?  Pertama, iman tak lepas dari komitmen hati dan hidup kita. Konsekuensinya, berani meninggalkan rasa aman dan mengalami hidup yang tak terduga dalam jalan Tuhan. Sosok Abraham adalah keteladanan hidup yang mengandalan Tuhan dalam segala-galanya.

Kedua, beriman semestinya lambat laun bertumbuh, setapak demi setapak, menanjak lewat banyak cobaan. Kepastian bahwa ada cobaan, belum tentu berarti kemunduran. Justru inilah keyakinan iman. Transfigurasi Yesus juga dimaksudkan untuk memperkuat iman para murid-Nya dalam mengantisipasi penderitaan guru-Nya sendiri. Kita tahu Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28). Iman selalu akan diuji lewat hidup sehari-sehari. Iman tidak menjadikan segalanya mudah tetapi iman menjadikan segalanya mungkin.

Ketiga, iman yang semakin tumbuh tak lepas dari sikap merawat hidup rohani, hidup doa kita. Yaitu sikap keterbukaan dan kepercayaan kita kepada Allah. Doa menuntun kita agar mengikuti jalan-Nya serta dalam diri kita berani berkata, “Tuhan apa yang Engkau inginkan aku lakukan”.

Keempat, bagi orang beriman, Tuhan itu tujuan akhir hidup kita. Tuhanlah yang selalu menggerakkan diri kita. Deus semper Maior: Tuhan selalu lebih besar- aku harus bergerak terus, memberikan jawaban pada-Nya.  Tuhan memberkati. Salam komunitas Pastoran Bintaro.

P. Sutiyo,SX