HARI MINGGU PRAPASKAH IV

Bacaan I: 1 Sam 16:1b.6-7.10-13a; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Bacaan II: Ef 5:8-14; Bac. Injil: Yohanes 9:1-41

Hari Minggu Prapaskah IV

HIDUPLAH SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG

 

Minggu lalu kita mendengar tentang kisah Yesus dengan Perempuan Samaria, yang mengajak kita untuk merefleksikan tentang air hidup, yakni Roh Kudus yang dicurahkan dalam diri kita melalui pembaptisan yang kita terima, sehingga kita dapat mengenal dan mencintai Allah dengan lebih baik lagi. Minggu  ini kita diajak untuk mengobati kebutaan Rohani kita dengan membiarkan Allah menjamah mata batin kita sehingga kita  dapat melihat dan merasakan kasihNya yang begitu besar yang telah dilimpahkan dalam hidup kita.

Kebutaan manusia tidak hanya dialami secara fisik tetapi semakin banyak kebutaan Rohani dan batin yang melanda dalam kehidupan manusia saat ini. Kebutaaan yang diakibatkan oleh banyak hal; egoisme manusia, kesombongan, iri- dengki, keinginan untuk menguasai segala hal bagi diri sendiri, dan masih banyak factor lain lagi. Kebutaan itulah yang membuat manusia tidak lagi mampu untuk melihat dengan lebih jelas arah dan tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni untuk memuji dan melayani Tuhan. Banyak orang lebih mementingkan diri sendiri daripada melihat kepentingan bersama. Bahkan banyak yang hanya mencari pembenaran diri dan menyalahkan oranglain dengan segala persoalan yang terjadi di dalam Masyarakat. Kita dengar dalam bacaan injil, bahkan para murid Yesus pun bertanya, “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri, atau orang tuanya, sehingga dia lahir buta?” kadangkala itu jugalah yang kita lakukan dihadapan persoalan hidup, kita lebih mencari kambing hitam, daripada mencari Solusi untuk mengatasi persoalan yang ada.

Yesus dengan tegas menyatakan bahwa itu bukan karena kedoasaan seseorang, melainkan agar rencana Tuhan tetap bisa dijalankan. Proses yang Panjang untuk bisa mewujudkan rencana Tuhan, kerapkali tidak bisa dimengerti oleh pikiran manusia yang sangat terbatas. Manusia lebih memilih mencari kambing hitam untuk bisa memenuhi keinginan menangkap persoalan yang ada.

Yesus mengajak para muridNya dan kita yang merenungkan peristiwa penyembuhan itu, untuk lebih melihat karya kasih Allah yang disediakan bagi manusia. Kesembuhan yang diberikan bukan hanya kesembuhan fisik, melainkan kesembuhan iman; penglihatan fisik dan batin. Namun hal itu membutuhkan sebuah proses yang terus menerus dan kepercayaan kepada Allah.

Dalam bacaan pertama, kita mendengar bagaimana nabi Samuel yang diutus untuk mengurapi raja Israel yang baru, untuk menggantikan Saul, pada awalnya mengandalkan mata fisiknya, melihat anak-anak Yesse, dan mulai memutuskan. Namun Tuhan membuka mata hati Samuel, bahwa apa yang dilihat manusia tidak sama dengan yang dilihat oleh Allah. Manusia hanya bisa melihat sejauh apa yang bisa ditangkap oleh pikiran dan logika mereka, sedangkan Allah melihat lebih jauh dan luas lagi. Allah melihat bukan apa yang saat ini, tetapi apa yang akan terjadi kemudian, jika manusia mau mengikuti apa yang menjadi rencanaNya. Daud sebagai anak yang paling muda, namun telah dilihat Allah sebagai raja besar yang akan memimpin umatNya, Israel.

Lalu bagaimana dengan kita? Untuk dapat mengobati kebutaan kita, pertama-tama kita harus menyediakan waktu untuk hening; mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Kedua kita diajak untuk mengikuti Dia, Sang Gembala sejati, yang akan menuntun kita di padang yang hijau. Dengan demikian kita diajak untuk meninggalkan segal kegelapan hidup kita dan berjalan dalam terang kasih Tuhan.

Semoga kita tidak menjadi seperti orang-orang Farisi yang semakin dibutakan oleh karena kesombongan diri, melainkan mengikuti teladan orang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Dia bertumbuh dalam iman, sembuh secara fisik dan batin.

Yohanes Purnomo, SX