HARI MINGGU BIASA IV
Bacaan I: Zefanya 2:3;3:12-13; Bacaan II: 1 Korintus 1:26-31; Bac. Injil: Matius 5:1-12a
Hari Minggu Biasa IV
Kesederhanaan dan kemiskinan adalah jalan menuju kebahagiaan bersama Tuhan
Kita masih ingat akan mendiang Paus Fransiskus yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam Gereja melalui tulisannya, tindakan-tindakan pastoralnya dan melalui teladan hidupnya. Banyak orang terkesan justru karena melihat sikapnya dalam menjalankan tugasnya sebagai Paus:
– Dia memilih tinggal bukan di istana kepausan melainkan di rumah St. Martha di mana para tamu yang datang ke Vatikan tinggal,
– Kalau dia berjalan atau naik pesawat dia sendiri memilih untuk membawa tasnya tanpa bantuan ajudannya,
– Pernah terjadi bahwa untuk menghormatinya sebagai Paus, dibuat suatu konser kelas tinggi yang biasa dilakukan di Vatican. Meskipun konser telah berlangsung, Paus Fransiskus tidak karena dia tidak mau menghadirinya, katanya: “acara seperti itu cocok untuk pangeran, bukan untuk saya”. Televisi memperlihatkan bagaimana kursi terhormat yang disediakan untuk Paus Fransiskus kosong!
– Nama yang dia pilih sebagai Paus ialah ‘Fransiskus’. Yaitu orang kudus dari keluarga kaya yang memilih untuk hidup miskin dan dalam kemiskinan itu, dia menemukan kebebasan penuh dan kebahagiaan.
Semuanya ini dilakukan oleh Paus Fransiskus untuk menunjukkan bahwa kita harus mencari kebahagiaan dan kepuasan hati bukan dalam kemewahan hidup atau dalam harta duniawi, tetapi justru dalam kesederhanaan dan dalam pengabdian tulus kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
Saudara-saudari, tema dari ketiga bacaan hari ini ialah kesederhanaan dan kemiskinan sebagai jalan atau sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Bacaan pertama diambil dari Kitab Zefanya. Dia adalah nabi yang hidup di tengah orang-orang kaya yang berpuas diri dengan harta duniawi tanpa menyadari bahwa kekayaannya itu hanya dapat memberikan rasa aman dan nyaman yang palsu kepada mereka. Zefanya memperingatkan mereka akan krisis nasional, yang disebut sebagai hari kemurkaan Tuhan. Pada hari itu orang-orang kaya dan orang-orang berkuasa akan menemukan betapa rapuhnya keamanan yang mereka miliki. Kekayaan tidak ada artinya namun mereka sadar dan kemudian belajar bahwa Tuhan memihak pada orang miskin dan tertindas. Zefanya menekankan bahwa Allah tidak tertarik kepada kehebatan atau keberhasilan manusia. Dia memperhatikan apakah manusia menaruh kepercayaan kepada-Nya atau tidak. Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita sungguh orang beriman, yaitu apakah kita rela mempercayakan diri kepada Tuhan atau kehendak-Nya? Sungguh memilukan bahwa ternyata orang miskin lebih mudah menaruh harapan pada Tuhan daripada orang kaya yang terbiasa mengandalkan dan mencari harta duniawi untuk memuaskan hatinya. Di titik inilah, kita perlu merenung bagaimana kondisi hidup kita sekarang ini.
Dalam bacaan kedua, Paulus memperingatkan orang-orang Korintus akan kebutaan rohani mereka. Orang-orang Korintus adalah orang-orang yang berpuas diri. Paulus memperingatkan mereka bahwa tidak ada alasan bagi mereka untuk memegahkan diri. Mereka sama sekali tidak berasal dari kelompok masyarakat kelas atas. Katanya: “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaanmu ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang” (1Kor 1:26). Dengan mengatakan hal-hal tersebut, Paulus mau menyampaikan apa yang telah diutarakan oleh Zefanya dalam bacaan pertama, yakni keberhasilan manusiawi dan status-status duniawi sama sekali tidak berarti di mata Allah. Allah memilih orang-orang yang tidak menaruh harapan pada hal lain atau orang lain. Allah memilih orang yang beriman kepada-Nya.
Pesan nabi Zefanya dan Rasul Paulus yang menekankan bahwa Allah menaruh perhatian khusus kepada orang-orang yang rendah dan miskin, mencapai puncaknya di dalam Sabda Bahagia yang disampaikan Yesus melalui Khotbah di Bukit.
“Berbahagialah” – kata Yesus tentang orang yang kita anggap tidak bahagia. Kita sering memandang bahwa orang mampulah yang memiliki pengaruh. Bagi Yesus yang “bahagia” ialah yang miskin, yang rendah, yang dihina: yaitu yang tidak memiliki, yang tidak mampu dan yang tidak berpengaruh dalam masyarakat. Dengan demikian Yesus menjungkirbalikkan nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup manusia. Dia menunjukkan bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah bertentangan frontal dengan nilai-nilai kerajaan duniawi. Dalam “Sabda Bahagia” kita dapat melihat cerminan hidup Yesus. Yesus menjelmakan di dalam diri-Nya Sabda Bahagia ini. Dia memang lahir dalam kemiskinan, hidup dalam kesederhanaan, menderita dan wafat di salib. Di dalam hidup-Nya kita dapat melihat terwujud Sabda Bahagia ini: Berbahagialah yang miskin, yang menderita, yang lemah, yang berbelaskasih, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang dikejar karena kebenaran. Semuanya itu telah dialami oleh Yesus. Tetapi Yesus menunjukkan juga kebenaran aspek lain dari Sabda bahagia itu: Dialah yang memiliki Kerajaan Surga, Dialah yang tetap hidup dalam damai dan kepuasan hati, Dialah tetap hidup bersatu dengan Bapa!
Maka Yesus ingin agar kitapun bergabung dengan Dia dalam mengejar kebahagiaan sejati dan bukan kebahagiaan semu yang kita temukan pada harta duniawi.
Saudara-saudari, Gereja terdiri dari orang yang mendengarkan Sabda Bahagia ini dan dengan kekuatan Roh Kudus meneladani hidup Yesus dengan menghayati Sabda Bahagia ini.
Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus dalam Khotbah di Bukit mengingatkan kita akan dua hal penting:
Pertama, kita harus ingat bahwa di hadapan Allah, kita semua, tanpa kecuali, adalah miskin. Kita bergantung kepada Allah dalam segala hal: kita lahir miskin, yaitu tanpa apa-apa dan nanti kita akan mati juga miskin, semua harta yang kita peroleh akan kita tinggalkan. Tanpa Dia kita tidak apa-apa dan tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi kita adalah anak-Nya, maka kita harus hidup sebagai anak Sang Raja dengan kesadaran bahwa kita dicintai sebagai anak-Nya dan dipercayakan tugas terhormat untuk meneruskan karya-Nya sendiri untuk membangun Kerajaan Allah.
Kedua, harta apapun yang kita peroleh di dunia ini akan memberikan kebahagiaan apabila kita pergunakan sebagai sarana untuk mengembangkan Kerajaan Allah, yaitu sebaai perwujudan cinta kasih, sebagai sarana belaskasih, sebagai sarana untuk membangun persaudaraan, untuk memperjuangkan keadilan dan nilai-nilai lain dari Kerajaan Allah. Sedangkan harta apapun yang kita kumpulkan hanya demi menambah-nambah kekayaan, demi menunjukkan kebolehan kita, kekayaan dan kekuasaan kita, semuanya itu hanya menjadi halangan untuk menemukan kebahagiaan sejati di dunia ini dan lebih-lebih di akhirat nanti.
Sabda bahagia itu adalah hukum baru yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Hukum baru ini dapat dimengerti dan dijalankan hanya oleh orang yang diterangi dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Maka kita mohon kepada Roh Kudus agar Dialah memberikan kepada kita pencerahan dan kekuatan yang kita butuhkan untuk menghayati ke-8 Sabda bahagia ini dan menemukan kebahagiaan sejati. Amin.
P. Franco, SX