Tercerahkan di Saat Bumi Berguncang
Pengalaman Rohani P. Yulianus Agung, SX
Tercerahkan di saat bumi berguncang
Sebelum dan pada saat gempa
Judul ini menggambarkan pengalaman pribadi saya ketika gempa berkekuatan 7,7 SR beserta gempa-gempa susulannya mengguncang tanah Flores.
Tanggal 14 agustus 2026 di Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Flores saya merayakan misa syukur tahbisan imamat yang diterima pada 24 juli 2026 di Padang. Banyak yang bergembira atas momen tersebut dan bersyukur bahwa semuanya berjalan lancar. Pihak keluarga melanjutkan momen sukacita itu hingga malam hari di kediaman orangtua. Persis setelah acara ramah tamah di gedung paroki selesai, saya bersama rombongan (sepasang suami istri dari Meksiko, pastor Martin SX, dua orang padang dan satu paman saya yang mengendarai mobil) langsung berangkat menuju Wae Rebo dan harus bermalam di Dintor, desa terdekat dari Wae Rebo. Semua terasa aman dan baik-baik saja.
Hari berikutnya tanggal 15 agustus 2026 pukul 05:30 a.m. WITA, kami berangkat ke Wae Rebo diantar menggunakan mobil menuju pos 1. Dari pos 1 ke pos 2 lanjut diantar menggunakan kendaraan bermotor. Gempa terjadi kira-kira pukul enam pagi WITA. Sebenarnya gempa tidak kami rasakan karena terjadi persis ketika kami sedang memboncengi motor. Kami benar-benar tidak tahu mengenai gempa tersebut sehingga kami melanjutkan dakian menelusuri bukit-bukit Wae Rebo. Dua jam perjalanan, kami pun tiba di pos 6. Kami terkejut karena para wisatawan berlari-lari ketakutan kembali ke pos 2. Sedangkan mereka juga terkejut melihat kami karena semuanya berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dari merekalah kami tahu bahwa ternyata gempa berkekuatan 7,7 SR baru saja terjadi. Listrik di Wae Rebo padam. Tidak ada sinyal untuk berkomunikasi keluar. Berita tersebut menumbuhkan rasa cemas. Kunjungan ke Wae Rebo dipercepat. Di desa-desa terdekat Wae Rebo juga tidak ada sinyal. Setelah lama berjalan, pesan WhatsApp dari keluarga masuk mengatakan bahwa baru saja terjadi gempa dan ada bagian dari rumah yang rusak dan hampir rubuh. Mereka sangat cemas akan keadaan kami karena sudah berjam-jam mereka tidak mendapatkan informasi.
Kami langsung pulang ke Ruteng. Sepanjang perjalanan tersebut, yang terlihat adalah pemandangan rumah-rumah yang rusak dan rubuh akibat gempa, orang-orang cemas ketakutan menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Hotel tempat menginap sepasang suami-istri Meksiko pun tak luput dari guncangan gempa. Dalam keadaan darurat, mereka harus tidur di rumah papan untuk menghindari bahaya gempa susulan. Tenda-tenda darurat dibentang. Semua orang tidur di dalam tenda. Tak ada yang berani berada di dalam rumah. Benar saja, gempa-gempa susulan dengan skala yang besar terjadi. Rasa kantuk hilang. Sepanjang malam hingga subuh yang terdengar ialah jeritan ketakutan. Suasana sukacita sehari sebelumnya berubah menjadi jeritan ketakutan pada hari berikutnya.
Bukan kutukan Tuhan
Dalam keadaan demikian, semua bekerjasama, bersatu, saling menjaga, saling melindungi, saling menghibur, saling mengingatkan dan yang paling penting ialah tetap berharap pada Tuhan. Tindakan-tindakan ini membuktikan bahwa Allah mengulurkan tangannya melalui orang-orang di sekitar. Tuhan butuh kerja sama dengan siapapun supaya kehadirannya nyata dirasakan semua orang dan semua pun membutuhkan pertolongannya. Ada banyak jeritan ketika gempa susulan terjadi: “Mori, Mori, campe koe ami!” (Tuhan, Tuhan, tolonglah kami!). Jeritan tersebut tidak menuduh bahwa Tuhanlah pelakunya, sebaliknya kepada Dialah setiap orang memohon pertolongan. Jeritan itu sebenarnya mencerahkan karena darinya bisa diketahui ternyata banyak umat kecil yang memahami bahwa Allah adalah kasih (Cfr. Yoh 3,16; 1Yoh 4,8; 1Yoh4,16). Mereka mengerti bahwa gempa bukanlah hukuman Tuhan, dan Tuhan tidak ada di dalam gempa (Cfr. 1Raja-raja 19,11). Yang ada ialah Tuhan itu mahabaik.
Injil Yohanes menunjukkan bahwa karena begitu besar kasih Allah akan Dunia ini, Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa (Cfr. Yoh 3,16). Tuhan tidak ingin kita binasa. Pemahaman ini sejalan dengan apa yang tertulis dalam kitab Nahum 1,7 “Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.” Dan kekuatan sabda Tuhan benar-benar terjadi dalam situasi tersebut “Tenanglah, ini Aku, jangan takut!”(Mat 14,27). Berada di tengah-tengah jeritan mereka, sepertinya susah untuk tenang, sepertinya susah untuk tidak ikut takut. Tapi bagaimanapun juga, ternyata kehadiran di tengah-tengah mereka memberi mereka semangat, menunjukkan kepada mereka bahwa Allah yang mahakasih tetap menyertai mereka. Apakah kami kemudian seperti malaikat bisa menghentikan gempa? Tentu bukan! Tetapi hadir di tengah-tengah dan ikut membantu mereka ternyata merupakan sikap paling mulia karena dari sana mereka Tahu bahwa Allah tidak menjauhi mereka, Allah tidak berpangku tangan menyaksikan mereka, Allah justru hadir dan melindungi mereka. Dia hadir memberikan ketenangan, menjamin bahwa Ia ada di antara kita dan tidak membiarkan siapapun hidup dalam ketakutan.
Satu saja, itu sudah cukup
Hari Minggu tanggal 16 agustus, saya merayakan misa bersama umat di salah satu stasi yang juga ikut terdampak. Banyak bagian dari gereja yang rusak. Rumah-rumah rusak. Tetapi iman mereka tetap kokoh dan kuat. Mereka hadir dalam perayaan Ekaristi berbusana rapi, bersih dan elok, seakan-akan mau mengatakan bahwa mereka ingin mempersembahkan yang terbaik buat Tuhan sekalipun gempa mengoyak rumah: iman tetap kokoh.
Tak terasa tetesan air mata jatuh bercucuran menyaksikan mereka hadir dalam perayaan, mulai dari anak-anak, orang muda, orang dewasa, orang-orang sepuh, orang-orang sakit dll. Kenapa air mata jatuh bercucuran? Karena malam hari sebelum misa dirayakan, timbul keinginan membatalkan perayaan tersebut, takut jangan sampai misa membahayakan mereka. Yang membatalkan keinginan itu ialah keputusan uskup Ruteng yang mana melalui surat edarannya menghimbau bahwa perayaan Ekaristi dilaksanakan di tempat terbuka atau di luar gedung. Sebelum berangkat, saya hanya berdoa, “Tuhan, satu atau dua orang saja yang hadir, itu sangat cukup.” Di luar dugaan, ternyata yang datang justru melimpah ruah. Perayaan tersebut menjadi momen haru karena untuk pertama kalinya setelah misa syukur pentahbisan, saya dihadapkan dengan situasi seperti ini. Umat yang tadinya menderita karena terdampak gempa menemukan harapan baru dalam perayaan Ekaristi. Maka hal pertama yang dilakukan ialah memberi semangat, inspirasi untuk tidak putus asa serta motivasi bagi umat terdampak supaya tetap menaruh harapan pada pertolongan Tuhan dan memohon perantaraan Bunda Maria supaya Allah tetap melindungi mereka layaknya sang ibu yang tidak ingin anak-anaknya tertimpa bahaya. Dalam situasi inilah saya melihat bahwa kehidupan imamat yang ke depannya dijalani harus selalu berdasar pada prinsip Matius 14,27 “Tenanglah, ini Aku, jangan Takut”. Tuhan tidak pernah meninggalkan siapapun sendirian dan Ia selalu berjalan bersama dalam menghadapi tantangan hidup.