Keledai sebagai tunggangan seorang raja melambangkan aspek kerendahan hati seperti yang diungkapkan dalam Injil bahwa Yesus adalah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Hal ini sungguh nampak di saat Yesus masuk ke kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai yang kita rayakan di Hari Raya Minggu Palma. Inilah cara masuk seorang mesias, naik keledai muda yang belum pernah ditunggangi yang menggambarkan pembaruan janji sekaligus pemenuhan janji dari Allah yang membarui cara hidup kita yang semakin serupa dengan Allah yang rendah hati.
Kerendahan hati adalah aspek yang paling penting dalam hal beriman. Hal ini digambarkan oleh Zakharia dengan membandingkan dengan kehidupan bangsa Israel ketika di tanah Babel, tanah pembuangan. Saat itu orang-orang Israel tidak lagi menjadi rendah hati dan merasa bahwa mereka bisa hidup tanpa bimbingan Allah. Mereka mulai meninggalkan Allah. Inilah yang mungkin membuat Zakharia berefleksi bagaimana semestinya umat beriman hidup dalam kerendahan hati mengikuti kehendak Allah.
Kerendahan hati juga ditunjukkan oleh Allah dengan menghadirkan Yesus melalui diri bunda Maria di kandang sederhana dan melalui persembahan sederhana St. Yusuf melalui dua ekor merpati, sebuah persembahan orang miskin. Selain itu, ketika dua orang tua, Simeon dan Anna menyampaikan ungkapan syukurnya karena mereka telah melihat Yesus, sang Mesias di dalam diri seorang bayi yang lembut, penuh ketergantungan dan rendah hati.
Kerendahan hati dan saling mengerti satu sama lain juga merupakan kunci dari relasi yang sehat. Relasi sang Bapa dan sang Putera adalah relasi ideal di mana Yesus sendiri dengan kerendahan hatinya dan meskipun Dia adalah Allah tetap menggantungkan diriNya kepada sang Bapa. Dalam kerendahan hatiNya sebagai Putra dan meskipun sang Putra memiliki segalanya, Ia tidak menggunakan hak kepemilikannya dengan semena-mena meskipun Dia pada akhirnya harus menderita sengsara demi keselamatan manusia. Justru sebaliknya, dia menggunakan kuasaNya untuk mengorbankan diriNya demi keselamatan manusia.
Inilah korban cinta kasih. Kasih Yesus adalah kasih yang rendah hati yang mau merendahkan diri demi kita yang dicintaiNya. CintaNya sungguh tak terbatas dan kita semua dipanggil agar memiliki cinta yang sama dengan Dia. Oleh karena itu, hari ini Tuhan memanggil kita untuk berani menjadi rendah hati, berani memercayakan seluruh hidup kita kepada Bapa, dan berani untuk setia dalam jalan hidup yang diberikanNya. Inilah kuk yang musti kita bawa, kuk salib yang membebaskan kita dari segala ketergantungan dan membawa kita pada keselamatan.