Rm. Krispurwana,SJ
Leo XIV: Gereja Misioner
Rm. Kris, SJ menekankan pentingnya peran Gereja sebagai komunitas misioner yang dijiwai oleh spiritualitas kasih, sebagaimana teladan jemaat perdana dan ajaran Evangelii Gaudium. Gereja dipanggil untuk menjadi institusi yang hidup, terbuka, dan mampu mewartakan Injil melalui dialog, inkulturasi, serta keberpihakan yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita. Fokus utama perutusan ini adalah membawa kasih Kristus ke tengah dunia yang sedang mengalami krisis kemanusiaan dan iman, dengan cara “kembali ke hati” dan menjadikan kasih sebagai dasar dari setiap tindakan pelayanan.
Dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk perkembangan teknologi seperti AI, Rm Kris menyoroti perlunya menempatkan martabat pribadi manusia di atas paradigma teknokratis. Teknologi harus digunakan untuk melayani kemanusiaan dan memajukan kesejahteraan bersama, bukan sekadar alat untuk efisiensi yang dapat memicu ketidakadilan atau penyeragaman. Gereja didorong untuk tetap waspada, mengedepankan solidaritas dan keadilan sosial, serta menjadi pembawa pesan harapan yang menjaga martabat manusia sebagai citra Allah di tengah arus digitalisasi.
Gereja juga diundang untuk menempuh jalan sinodalitas, yang berarti belajar mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama dalam kesabaran. Proses penegasan bersama ini sangat penting untuk menjalankan tugas perutusan, di mana komunitas tidak boleh menutup diri melainkan terus membangun jembatan penghubung bagi kedamaian, keadilan, dan kelestarian rumah bersama. Dengan sikap yang terbuka dan inklusif, Gereja diharapkan mampu menyentuh realitas penderitaan sesama secara langsung, menjadikan kepedulian sebagai tanda otentik keberimanan.
Terakhir, pendidikan di lingkungan Gereja dipandang sebagai sarana penyataan kasih yang krusial untuk membentuk pribadi yang utuh sebagai citra Allah. Di tengah dunia yang kompleks dan terpecah, institusi pendidikan Katolik harus menjadi tempat di mana iman dan akal budi berpadu, serta di mana setiap orang didampingi dalam dialog yang mendalam. Melalui kesaksian profetis dan keberanian moral, Gereja diutus untuk menjadi pejuang perdamaian yang menolak kekerasan dan senantiasa hadir sebagai “rumah sakit lapangan” bagi mereka yang membutuhkan.