HARI MINGGU BIASA XXV
Bacaan I: Yesaya 55:6-9; Mazmur: 145:2-3.9-9.17-18; Bacaan II: Filipi 1:20c-24.27a; Bacaan Injil: Matius 20:1-16
Hari Minggu Biasa XXV
Allah itu Murah Hati
Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih) mengatakan demikian. “Iman pastilah mempunyai hakikatnya sendiri sebagai pertemuan dengan Allah yang hidup, pertemuan yang membuka cakrawala baru bagi kita jauh melampui akal budi sendiri. Sekaligus, ia juga daya pemurnian bagi akal budi sendiri. Berpangkal pada perspektif Allah, iman membebaskan dari kebutaan dan karenanya membantunya menjadi lebih baik,” (No. 28a).
Dalam Injil, pekerja kebun anggur pertama protes pada pemiliknya. Katanya, “Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” Kita tahu, oleh pemilik kebun anggur semua pekerja diupah satu dinar. Baik yang datang pagi-pagi benar dan yang datang satu jam sebelum waktu kerja selesai. Bagaimana kita memahami kemurahan hati Allah?
PENDALAMAN SABDA
Saudara-saudari yang terkasih, logika hidup manusia secara umum adalah do ut des: memberi untuk mendapat. Dalam level manusiawi dan rohani, kadang orang terjebak dalam mentalitas ini. Akibatnya, dalam segala hal, ada hitung-hitungan. Kalau saya mengerjakan sesuatu, saya mesti mendapat imbalan. Hukum ekonomi berlaku, transaksi jual beli. Ukurannya adalah saya dapat apa kalau saya mengerjakan ini. Itulah logika hidup manusia pada umumnya, termasuk kita.
Dalam level rohani, mentalitas ini pun merasuki wilayah rohani. Praktik ritual (tertib berdoa, kerajinan ke gereja, aktif kegiatan gereja, berpantang, berpuasa, berziarah, dll) sering jatuh dalam konsepsi agama yang transaksional: seolah-olah Tuhan bisa disuap dengan tindakan ritual kita. Tuhan bisa dibeli dan dibuat tunduk karena kemauan manusia.
Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk berani menyadari bahwa kehendak Allah itu melampui akal dan kehendak kita. Bacaan pertama meneguhkan pandangan ini. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” Paham keadilan mesti ditempatkan dalam kerangka ini. Konsep keadilan dunia tidak sama adilnya Tuhan. Keadilan-Nya melampui pikiran dan kehendak manusia. Sabda-Nya, “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Tidak jarang, kita menjadi orang yang iri hati dan dengki melihat keberhasilan orang lain. Tapi kita tidak melihat sejauh mana usaha dan kerja keras mereka untuk mengusahakan itu semua.
Injil melukiskan indahnya gambaran Kerajaan Surga diberikan bagi setiap manusia. Kerajaan Surga adalah tersedia kepada siapa saja. Inilah yang dalam perumpamaan tadi digambarkan tindakan pemilik kebun anggur menawarkan pekerjaan bagi mereka yang kedapatan masih menggangur pada jam sembilan, tengah hari, jam tiga sore, dan bahkan sejam sebelum waktu kerja usai. Mereka yang masih menunggu rezeki tidak ditinggalkan sendiri. Inilah keadilan dalam Kerajaan Surga. Setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan hidup kekal. Tuhan tidak pernah melupakan dan meninggal umat-Nya, dalam waktu dan situasi apa pun hidupnya.
Pemilik Kerajaan Surga adalah Allah, tuan kebun anggur-Nya. Dialah yang mencari dan menemui setiap pekerja. Bukan manusia yang mencari Tuhan, melainkan Tuhanlah yang mencari kita. Semuanya dipanggil dan diundang untuk melakukan pekerjaan-Nya. Kerajaan-Nya yang luas tak terbatas disediakan bagi kita. Kasih-Nya memanggil setiap orang untuk mengalaminya
Dalam Injil dikatakan, “Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula. Pergilah jugalah kamu ke kebun anggurku.” Lima waktu mau menggambarkan bagaimana sabarnya Tuhan bagi kita. Tuhan memberi waktu yang cukup dan kesempatan mengalami kasih-Nya. Kita yakin dan percaya pada-Nya supaya jangan ada seorang pun binasa, melainkan mengalami keselamatan kekal. Tak ada kata terlambat untuk Tuhan bagi hidup manusia.
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus, “sedinar” itu tentunya tidak diberikan begitu saja. Kerajaan Surga adalah anugerah, berkat, dan kasih-Nya bagi umat manusia. Meski demikian, kita sebagai umat beriman tetap diundang untuk menanggapi anugerah itu. Kemurahan hati Allah membutuhkan tanggapan konkret. Setiap orang dipanggil untuk menanggapi dengan sungguh-sungguh kemurahan Tuhan. Semestinya cinta Tuhan mengerakkan dengan tulus dan penuh hati bagi kita. Sikap diharapkan dari kita tidak setengah-setengah mengolah dan mewujudkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari.
Layak Untuk Kita Renungkan
Pertanyaan reflektif bagi kita semua. Bagaimana jika yang datang terakhir dalam perumpamaan itu adalah kita sendiri? Keluarga kita? Saudara kita? Bukankah kita akan sujud syukur pada-Nya? Tuhan tak pernah meninggalkan hidup umat-Nya. Inilah pesan agung bagi kita. Harapan dan keyakinan seperti ini mesti menjadi pegangan iman kita bahwa karya keselamatan Tuhan ditawarkan setiap waktu sesuai kondisi dan keadaan hidup setiap manusia. Semoga kemurahan dan keselamatan Allah menjadi kerinduan hati setiap manusia untuk menanggapinya. (P. Sutiyo,SX)