HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA
Bacaan I: Wahyu 11:19a;12:1.3-6a.10ab; Mazmur: 45:10c-12.16; Bacaan Injil: Luk 1:39-56
Hari Raya St. Perawan Maria Diangkat ke Surga
Konsili Vatikan II mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidka perah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG art.59). Pada hari ini, Hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga memberikan kepada kita pengharapan besar, yaitu menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, dan mencari persatuan abadi dalam Kerajaan Surga.
Dalam karya Bunda Maria di dunia ini, seluruh hidupnya dipersembahkan kepada Allah dengan mendampingin Putranya di dunia. Bacaan dari Kitab Wahyu memberikan gambaran betapa besarnya perjuangan seorang ibu yang musti melahirkan Kristus dan diancam oleh seekor naga yang siap memangsanya. Ancaman dari nubuat itu juga nyata di dalam hidup kita. Ancaman modernisme, ancaman pemahaman keluarga yang berubah, ancaman akan aborsi, dan lain sebagainya menjadikan peran seorang ibu yang semestinya menjadi penjaga bagi generasi penerus seakan-akan digerogoti oleh naga yang tak kasat mata tersebut. Perjuangan tentu tidak mudah, namun kesetiaan dan komitmen untuk mendampingi dan mendidik anak adalah keutamaan. Selain itu, kehadiran Allah yang menyelamatkan menjadi pokok utama dalam karya keselamatan kita. Bunda Maria menghadirkan Kristus ke dunia tidak lain karena Allah ingin menyelamatkan kita semua.
Bacaan Injil menyediakan dua pokok utama yang luar biasa. Pertama, kunjungan kasih Maria kepada Elisabeth yang juga mengandung memberikan gambaran akan pentingnya relasi interpersonal antara kedua orang ibu yang saling menguatkan satu sama lain. Kedua, kidung “magnificat” sebagai pujian dari Bunda Maria atas segala rahmat dan berkat yang turun kepada mereka berdua. Kedua perempuan ini mendapatkan rahmat dan kasih karunia Allah kemudian mereka berbagi kegembiraan. Dengan suasana hati yang gembira pula, Maria mengidungkan “Magnificat”, yaitu pujian bagi Tuhan yang menyelamatkan, yang membbuat hidup menjadi berarti dan penderitaan menjadi bermakna. Ungkapan iman akan Tuha nyang demikian ini, dapat membuat manusia semakin peka dan mencari jalan untuk memperbaiki kemanusiaannya sendiri.