PESTA RASUL SIMON ORANG ZELOT DAN YUDAS TADEUS

 Bacaan I: Efesus 2:19-22; Mazmur 19:2-3.4-5; Bacaan Injil:

PESTA RASUL SIMON ZELOT DAN YUDAS TADEUS

CARA ALLAH BEKERJA DI DUNIA MELALUI PARA RASUL

Merayakan Pesta Rasul Simon orang Zelot dan Yudas Thadeus bukan sekadar mengenang dua tokoh dalam sejarah awal Gereja, melainkan sebuah undangan mendalam untuk merenungkan misteri agung cara Allah bekerja di tengah dunia. Melalui kehidupan dan panggilan kedua rasul ini, kita diajak untuk melihat kembali fondasi iman Kristen yang dibangun di atas kesaksian para rasul—sebuah warisan iman (Deposit of Faith) yang dijaga melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci.

Ketika merenungkan daftar kedua belas rasul, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mengejutkan: mereka bukanlah orang-orang pilihan yang sempurna, pintar, atau berasal dari kalangan elite agama. Yesus memilih mereka bukan berdasarkan prestasi atau keunggulan pribadi (grace over merit), melainkan semata-mata karena rahmat dan kehendak-Nya.

Lebih dari itu, Yesus dengan sengaja merajut sebuah persekutuan yang di dunia luar mustahil bisa bersatu. Bayangkan Matius, seorang pemungut cukai yang bekerja bagi penjajah Romawi dan dianggap pengkhianat oleh bangsanya sendiri, disandingkan di meja yang sama dengan Simon orang Zelot, seorang nasionalis radikal yang siap mengangkat senjata demi membebaskan Israel dari cengkeraman Romawi.

Kehadiran Simon dan Matius dalam satu lingkaran para rasul adalah sebuah mukjizat rekonsiliasi yang hidup. Ini mengingatkan kita bahwa Tubuh Kristus (Gereja) melampaui sekat-sekat politik, sosial, suku, dan ideologi duniawi. Di dalam Kristus, orang-orang yang tadinya terpisah oleh kebencian dan permusuhan dipanggil untuk duduk bersama sebagai saudara seiman.

Kisah Rasul Simon mengajarkan kita tentang sebuah transformasi radikal. Semangat (zeal) yang tadinya berapi-api untuk sebuah revolusi politik duniawi diubah dan dimurnikan oleh Kristus menjadi semangat rohani yang membara demi Kerajaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa

Sementara itu, kehadiran Rasul Yudas Thadeus—yang dalam Perjamuan Terakhir bertanya penuh kerinduan kepada Yesus (“Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”)—mewakili kerinduan terdalam hati manusia akan perjumpaan yang intim dengan Allah. Yudas anak Alpheus mengajarkan kita bahwa kehidupan rohani bukanlah sekadar rutinitas luar, melainkan relasi pribadi yang berakar pada kasih, ketaatan pada sabda-Nya, serta keberanian untuk “berjuang bagi iman yang telah diserahkan kepada orang-orang kudus” di tengah dunia yang sering kali menyesatkan.

Merayakan pesta Santo Simon dan Santo Yudas Thadeus hari ini memberikan tiga buah renungan penting bagi peziarahan hidup kita:

ü  Kesadaran akan Rahmat: Bahwa apa pun latar belakang, kelemahan, masa lalu, atau batas kemampuan kita, Tuhan tetap memanggil kita untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Panggilan ini murni adalah anugerah.

ü  Semangat Persaudaraan: Gereja dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah yang merangkul perbedaan. Jika Kristus mampu menyatukan seorang pemungut cukai dan seorang Zelot, Ia pun mampu mendamaikan perpecahan di dalam hidup dan komunitas kita hari ini.

ü  Ketekunan dalam Pencobaan: Dikenal sebagai pelindung untuk perkara-perkara yang sulit, Santo Yudas mengingatkan kita untuk tidak pernah putus asa, melainkan tetap berakar teguh pada kebenaran apostolik, tekun berdoa dalam Roh Kudus, dan tinggal di dalam kasih Allah, bahkan di tengah jalan buntu kehidupan.

 

Semoga melalui teladan iman, kesetiaan, dan kemartiran Rasul Simon dan Yudas Thadeus, kita semakin diteguhkan untuk menjadi batu-batu hidup yang menyangga dan mewartakan kasih Kristus di dunia saat ini.