HARI RAYA PENTAKOSTA
Bacaan I: Kis 1:12-14; Mazmur: 27:1.4.7-8a; Bacaan II: 1 Petrus 4:13-16; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a
HARI RAYA PENTAKOSTA
Roh Kudus Mendampingi Kita untuk Berkarya
Hari Raya Pentakosta
Kisah Para Rasul 2:1–11 | 1 Korintus 12:3b–7.12–13 | Yohanes 20:19–23
Pentakosta sering disebut sebagai hari lahirnya Gereja. Tetapi kalau kita masuk lebih dalam ke dalam bacaan-bacaan hari ini, kita akan menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar “awal”. Pentakosta adalah perubahan besar: dari takut menjadi berani, dari tertutup menjadi terbuka, dari tercerai-berai menjadi satu.
1. Dari pintu tertutup menjadi hati yang terbuka
Dalam Injil, para murid berkumpul dengan pintu terkunci. Mereka takut; takut ditangkap, takut ditolak, takut masa depan mereka hancur. Dan di tengah ketakutan itu, Yesus datang dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.” Yesus datang justru saat mereka masih takut. Lalu Ia melakukan sesuatu yang sangat berarti: Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Ini bukan sekadar simbol melainkan penciptaan baru. Seperti Allah menghembuskan napas kehidupan pada manusia di awal, sekarang Yesus menghembuskan hidup baru bagi Gereja. Artinya: iman kita tidak dibangun di atas keberanian kita, tetapi di atas Roh Kudus yang bekerja dalam kita.
2. Roh Kudus mengubah ketakutan menjadi keberanian
Dalam Kisah Para Rasul, perubahan itu langsung terlihat. Para murid yang tadinya bersembunyi, sekarang berdiri dan berbicara di depan umum. Yang tadinya takut, sekarang berani bersaksi. Apa yang berubah? Bukan situasi mereka, dunia tetap sama. Tetapi hati mereka diubah oleh Roh Kudus.
Roh Kudus tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi Ia memberi kita kekuatan untuk menghadapinya. Itulah sebabnya orang banyak heran: mereka mendengar para rasul berbicara dalam berbagai bahasa. Ini bukan hanya soal mukjizat bahasa. Ini tanda bahwa Roh Kudus membuat Injil dapat dimengerti oleh semua orang. Cinta Tuhan tidak eksklusif. Ia menembus batas bahasa, budaya, dan perbedaan.
3. Banyak karunia, satu Roh
Dalam surat kepada jemaat Korintus, Santo Paulus mengingatkan: ada banyak karunia, tetapi satu Roh. Ada banyak anggota, tetapi satu tubuh. Ini sangat relevan bagi kita. Sering kali kita merasa: “Saya tidak bisa apa-apa” “Saya tidak sepenting yang lain” atau sebaliknya: merasa diri paling benar. Tetapi Roh Kudus bekerja justru dalam keberagaman itu. Tidak semua orang harus menjadi sama. tetapi semua dipanggil untuk berkontribusi. Gereja bukan kumpulan orang hebat, tetapi tubuh di mana setiap bagian punya peran. Dan yang menyatukan bukan kesamaan, tetapi Roh Kudus itu sendiri.
4. Roh Kudus memberi misi: mengampuni dan mengutus
Dalam Injil, setelah memberi Roh Kudus, Yesus langsung memberi tugas: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Artinya, Roh Kudus tidak diberikan untuk disimpan, tetapi untuk dihidupi dan dibagikan. Dan tugas pertama yang disebut adalah: mengampuni. Ini menarik, bukan mukjizat besar, bukan hal spektakuler, tetapi pengampunan. Karena di situlah dunia paling membutuhkan Roh Kudus. Mengampuni itu sulit. Tetapi justru di situlah Roh Kudus bekerja paling nyata.
Pentakosta bukan hanya peristiwa yang terjadi 2000 tahun lalu. Pentakosta adalah undangan untuk kita hari ini. Saat kita takut, Roh Kudus memberi keberanian. Saat kita tertutup, Roh Kudus membuka hati. Saat kita berbeda, Roh Kudus mempersatukan. Saat kita lemah Roh Kudus menguatkan.
Selamat Hari Raya Pentakosta!