Seminar Perayaan 75 Tahun Serikat Xaverian di Indonesia
Sabtu, 13 Juni 2026, Gedung Aula Leo Soekoto Paroki St. Matius – Bintaro. Sejarah pewartaan Injil yang dilakukan oleh para misionaris Xaverian telah berlangsung selama 75 tahun. Hal ini bukan perjalanan yang singkat dan tanpa tantangan, justru menjadi bahan untuk belajar dan mengembangkan diri agar semakin mampu untuk mewartakan Injil kepada semua orang.
Membaca Kembali Misi ad Gentes: Inspirasi Biblis dan Spiritualitas Misioner Pauls Leo XIV
Seminar: Mengajak untuk Berefleksi
Perjalanan para Misionaris Xaverian dalam mewartakan Injil Tuhan di tanah nusantara tergolong masih muda bila dibandingkan dengan konggregasi-konggregasi yang sudah berkarya di Indonesia. Akan tetapi hal ini tidak menjadi alasan bagi Serikat Xaverian untuk tidak mensyukuri rahmat atas 75 tahun kehadiran di Indonesia. Perayaan ini menjadi suatu ungkapan syukur sekaligus refleksi tentang perjalanan dan bagaimana untuk di masa mendatang mandat perutusan dari Yesus sendiri untuk mewartakan Injil Tuhan tetap diperjuangkan.
Mgr. Vitus Rubianto, SX
INSPIRASI BIBLIS MISI AD GENTES GEREJA
Dalam presentasinya, Bapa Uskup membahas refleksi teologis mengenai inspirasi biblis misi Ad Gentes dalam rangka merayakan 75 tahun kehadiran Serikat Misionaris Xaverian di Indonesia. Fokus utamanya adalah memahami hakikat panggilan misioner sebagai anugerah Tuhan yang menggerakkan umat untuk terlibat aktif dalam perutusan Kristus, di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh konsumerisme dan rasa puas diri.
Secara historis, Mgr. Vitus Rubianto mengulas jejak langkah karya pelayanan Gereja Katolik di Sumatera, khususnya di Keuskupan Padang yang bermula dari stasi Vikariat Apostolic Batavia. Dimulai dari peran para prefek apostolik dan uskup terdahulu, serta kehadiran para misionaris Xaverian asal Italia yang berperan penting dalam mengembangkan pelayanan di berbagai wilayah hingga akhirnya status keuskupan ditetapkan.
Dua faktor yang menjadi refleksi teologis dalam pemaparan gembala Keuskupan Padang ini adalah misi dengan membedakan dua profesi kemuridan alkitabiah, yakni gembala dan nelayan, yang menggambarkan pergeseran dari misi yang bersifat sentripetal ke sentrifugal. Hal ini menegaskan mandat perutusan universal Yesus Kristus kepada seluruh bangsa untuk membawa keselamatan melalui baptisan partisipatif yang melibatkan seluruh umat sebagai pewarta Injil.
Sebagai penutup, Bapa Uskup Mgr. Vitus menekankan pentingnya transformasi Gereja dari ecclesia docens menjadi ecclesia discens yang berjalan bersama, serta ajakan untuk membangun Gereja yang senantiasa membuka pintu bagi sesama. Misi sejati dipandang sebagai pemberian diri dengan sukacita yang lahir dari rasa syukur, bukan sebagai beban, demi memancarkan kasih Kristus kepada semua orang di tengah realitas pluralitas budaya dan agama.
Rm. Krispurwana,SJ
Leo XIV: Gereja Misioner
Rm. Kris, SJ menekankan pentingnya peran Gereja sebagai komunitas misioner yang dijiwai oleh spiritualitas kasih, sebagaimana teladan jemaat perdana dan ajaran Evangelii Gaudium. Gereja dipanggil untuk menjadi institusi yang hidup, terbuka, dan mampu mewartakan Injil melalui dialog, inkulturasi, serta keberpihakan yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita. Fokus utama perutusan ini adalah membawa kasih Kristus ke tengah dunia yang sedang mengalami krisis kemanusiaan dan iman, dengan cara “kembali ke hati” dan menjadikan kasih sebagai dasar dari setiap tindakan pelayanan.
Dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk perkembangan teknologi seperti AI, Rm Kris menyoroti perlunya menempatkan martabat pribadi manusia di atas paradigma teknokratis. Teknologi harus digunakan untuk melayani kemanusiaan dan memajukan kesejahteraan bersama, bukan sekadar alat untuk efisiensi yang dapat memicu ketidakadilan atau penyeragaman. Gereja didorong untuk tetap waspada, mengedepankan solidaritas dan keadilan sosial, serta menjadi pembawa pesan harapan yang menjaga martabat manusia sebagai citra Allah di tengah arus digitalisasi.
Gereja juga diundang untuk menempuh jalan sinodalitas, yang berarti belajar mendengarkan satu sama lain dan berjalan bersama dalam kesabaran. Proses penegasan bersama ini sangat penting untuk menjalankan tugas perutusan, di mana komunitas tidak boleh menutup diri melainkan terus membangun jembatan penghubung bagi kedamaian, keadilan, dan kelestarian rumah bersama. Dengan sikap yang terbuka dan inklusif, Gereja diharapkan mampu menyentuh realitas penderitaan sesama secara langsung, menjadikan kepedulian sebagai tanda otentik keberimanan.
Terakhir, pendidikan di lingkungan Gereja dipandang sebagai sarana penyataan kasih yang krusial untuk membentuk pribadi yang utuh sebagai citra Allah. Di tengah dunia yang kompleks dan terpecah, institusi pendidikan Katolik harus menjadi tempat di mana iman dan akal budi berpadu, serta di mana setiap orang didampingi dalam dialog yang mendalam. Melalui kesaksian profetis dan keberanian moral, Gereja diutus untuk menjadi pejuang perdamaian yang menolak kekerasan dan senantiasa hadir sebagai “rumah sakit lapangan” bagi mereka yang membutuhkan.