HARI MINGGU BIASA XI

 Bacaan I: Keluaran 19::2-6a; Mazmur: 100:2.3.5; Bacaan II: Roma 5:6-11; Bacaan Injil: Matius 9:36-10:8

HARI MINGGU BIASA XI

Panggilan Para Rasul adalah Panggilan Kita Semua

Pada dasarnya, kita semua yang telah dibaptis menerima rahmat dan tanggung jawab sebagai imam, raja dan nabi. Bacaan pertama dari Kitab Keluaran mengingatkan kita akan tugas yang dipercayakan Allah kepada Umat terpilih-Nya melalui Musa dalam rangka Perjanjian. Bila kita semua menghormati Perjanjian itu, kita sudah menggenapi bagian kita sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita semua dipersatukan dalam kesatuan dengan Dia. Maka, kita semua mengambil bagian dalam Kerajaan para imam dan bangsa yang kudus yang dibuat oleh Allah. Meskipun kita semua terkadang melupakan hakikat dari panggilan kita, kita semua dipanggil kepada kekudusan, sebab itu kita diikutsertakan dalam panggilan hidup Ilahi yang pada suatu saat, harapannya adalah kita semua akan menjadi pewarta yang menggarami dunia dengan Injil Tuhan.

Tugas perutusan ini bermula dari para Rasul yang telah dipilih Yesus untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang, mula-mula kepada bangsa Israel. Kita perlu mengingat bahwa tugas perutusan itu berasal dari kasih sayang Yesus akan orang banyak yang tidak terpimpin. Pemanggilan para rasul menjadi awal dari tugas untuk menggembalakan domba-domba yang tidak tahu arah. Para rasul dibimbing langsung oleh Tuhan. Mereka dibekali dengan berbagai pesan pokok utama dalam pewartaan Injil Kristus, yaitu pertobatan dan keselamatan. Inilah Kabar Gembira yang mereka wartakan. Tidak hanya hanya mengajar, mereka bahkan menyembuhkan orang sakit, mengampuni orang-orang berdosa dan pada akhirnya membawa setiap orang kepada Yesus.

Karya ini memang terkadang terdengar sepele atau bahkan saking sepelenya, kita sering melupakannya. kita terlalu larut mencari kesempurnaan dalam karya pelayanan, mencari pujian dari orang banyak dibanding membawa orang banyak memuji Tuhan. Berlaku baik agar diri semakin dikenal, bukan Allah yang musti dikenal. Kadang kita juga lebih suka mewartakan kabar buruk daripada Kabar Gembira. Kondisi-kondisi inilah yang membuat kita seringkali mengatakan “ya” akan tugas dan perutusan, namun dalam tindakan malah berbuat dosa.

Maka dari itu, marilah kita memohon berkat kepada Tuhan agar karya dan warta yang kita bagikan adalah Kabar Gembira Yesus sendiri, bukan mewartakan diri kita masing-masing.