HARI MINGGU BIASA XXII

 Bacaan I: Yeremia 20:7-9 ; Mazmur: 63:2..3-4.5-6.8-9; Bacaan II: Roma 12:1-2; Bacaan Injil: Matius 16:21-27

Hari Minggu Biasa XXII

 

Apa yang ditawarkan Yesus pada minggu ini adalah cara hidup bilamana kita ingin mengikuti Dia secara penuh. Mungkin kita bertanya-tanya bagaimana caranya, apakah kita sanggup mengikuti Dia, apa manfaat yang bisa diperoleh dengan mengikuti Dia dan lain sebagainya. Pertanyaan ini wajar muncul atau bahkan sering membuat kita terkadang hilang arah karena muncul berbagai kebutuhan, godaan, dilema, atau bahkan keinginan-keinginan duniawi dan pola pikir praktis yang membuat kita lebih sering fokus pada manfaat dan kegunaan jasmaniah dibandingkan dengan hal rohani.

Terkadang dalam hidup kita, kita sering memiliki keinginan-keinginan pribadi atau di suatu saat dan di suatu tempat ada yang bertanya kepada kita, apa mimpimu? Bahkan guru-guru kita, masyarakat sekitar kita dan keluarga kita pun bertanya kepada kita, “apa cita-citamu?” Pertanyaan ini sering membuat kita berani bermimpi dan bahkan memberikan seluruh daya hidup dan usaha kita untuk mencapai mimpi tersebut. Tentu usaha tersebut adalah baik, mimpi yang diinginkan adalah hal yang baik pula. Akan tetapi, apakah kita sebagai seorang Kristiani mampu merenungkan sampai pada pertanyaan apakah ini sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sering kita juga berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mengabulkan doa-doa kita. Kita ingin ini, kita berusaha dan bahkan kita berdoa dengan menyediakan waktu yang banyak, doa novena dipanjatkan, bahkan mengunjungi tempat-tempat jiarah di mana banyak orang bersaksi bahwa jika jiarah di tempat tersebut, mukjizat akan terjadi. Tentu banyak doa dan permohonan terjadi karena usaha dan doa-doa kita, tetapi apakah kita sanggup menerima jika situasi berkata lain?

Kenyataan paling pahit terkadang membuat kita menjauhkan diri dari Tuhan, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa terkadang kenyamanan duniawi membuat kita lupa bersyukur. Dengan cita-cita dan mimpi yang terwujud terkadan membuat kita kehilangan iman yang membuat kita melebihkan diri sehingga kita melupakan Tuhan yang telah menyediakannya bagi kita. 

Di kondisi yang tidak menyenangkan kita terkadang protes kepada Tuhan mengapa Tuhan tidak mendengarkan doaku, atau bahkan kita mulai melupakan Tuhan. Di satu sisi kita bisa menerima bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Tetapi mengatakan hal ini tidak cukup. Memang Tuhan menghendaki hal yan gbaik terjadi pada diri kita, tetapi kita tidak boleh terus menerus menghubungkan segala sesuatu kepada Tuhan. Kita perlu berefleksi dan mendengarkan suara Tuhan.

Di sinilah kita perlu semangat dan niat untuk menyangkal diri. Menyangkal diri artinya adalah berani memilih Tuhan dan menolak segala hal yang menjauhkan diri kita dari Tuhan. Tentu tidak semua hal membuat kita jauh dari Tuhan. Banyak di dunia ini mendekatkan kita dengan Tuhan akan tetapi apakah kita mampu menggunakannya secara bijak. 

Petrus punya mimpi yang indah, tetapi Yesus berkata lain. Ia lebih memilih salib dibanding kejayaan, memilih mengorbankan diri daripada menyelamatkan nyawaNya. Inilah bentuk pengorbanan yang diperlukan agar manusia diselamatkan. Kita yang di dunia ini juga dipanggil untuk terus bertekun. Kita tidak boleh menempatkan Tuhan di belakang kita. Tuhan berada di depan kita, Dia memberikan teladan kebenaran dan keselamatan. 

Salib memang berat, namun inilah bentuk Cinta Tuhan yang diberikan kepada kita. Cinta Tuhan inilah yang musti kita pegang di mana kita pun diundang untuk memikul salibNya. Jika kita berani memikul salibNya, di sini baru nampak jika kita benar-benar ingin mengikuti Dia.

Semoga kita semua punya daya juang untuk memikul salibNya dan mengikutiNya seumur hidup kita. 

Tuhan memberkati.